grauk




TRISTIA RISKAWATI.

Ciri fisik: Berhidung bolong | Prestasi: Runner-Up Lomba Masukin Pensil ke Botol se RT | Cita-cita : Juragan makanan bergenre kuah-hangat-nikmat bernama Cuankie | Jenis Kelamin : Mba-mba | Profesi : Hamba.


twitter | goodreads
Ask me anything

pembenaran hari ini.

Maka pembenaran apa lagi yang kita lakoni hari ini?

image

Dari kita ada yang melambat-lambatkan bangun pagi, ada pula yang menikmati olok-olokkan sesama manusia; berbetah melihat paha wanita dalam video klip; memandang dada kekar pria-plastik korea; hingga ada yang main selap-selip gepok duit di gedung aparat.

Seolah semuanya menjadi masuk akal. Sepandai-pandainya kita reka. Logika pembenaran kita konstruksi teruss.

Lantas sampai kapan kebenaran yang diam-diam mengetuk nurani dapat mampir di jiwa?  

Si sinyal-sinyal nggak enak saat melakukan pembenaran itu mau digencet terus sampai hilang tak berbekas atau bagaimana nih, Pak? Bu?

Astagfirullah, sungguh aku maha kecil, ya Allah.




*Foto koleksi pribadi.

dalam hening.

image


Dalam hening, nona teriak
Dalam hening, nona berontak
Dalam hening, nona menjejak 

Tak berkoar si nona dalam surak surai bara emosi.

Namun kau tinggikan Tuhanmu dan rendahkan dirimu— dalam hening yang perlahan cerahi bising.

postmodern purba.

Semua bermula ketika rekan redaksi saya, Gilang Ramadhan melontarkan kebingungannya soal Quraish Shihab. Kala itu ialah pagi menjemput siang di sudut kantor mini Gedung Kayu Masjid Salman.

Biasa, yang soal doi tidak mempermasalahkan berjilbab atau tidaknya seorang muslimah. Padahal, menurut kami, tafsirannya bagus.

Kemudian obrolan menjadi mengularnagapanjangnya-bukan kepalang. Ada Aikhalid, si mimin media sosial kami yang memaparkan letihnya ia terlalu “giung” mengkampanyekan konsep ideal. Mungkin tentang agama yang ideal. Masalahnya, realita tak sesimpel dipadatkan pada cetakan konsep ideal, Bung!

Saya paham betul. Saya sedikit banyak paham soal kenyataan (das sein) yang jauh dari konsep serbasempurna (das sollen). Saya katakan— orang superkeren ialah orang yang bisa memahami realitas— namun tak putus asa membumikan konsep ideal.

Kemudian ada Faisal Noorikhsan, yang kami kenal sebagai redaktur buletin media kami. Ia mengagas diskusi soal konsep Pemilu yang membingungkan. Ia memerkarakan soal demokrasi, dimana orang yang tak tahu menahu gugus perpolitikan negeri dipaksa memberikan suara. Sepaham, Bung.

Kemudian ada Marchiana Aulya, si teman kuliah yang kemudian menjadi teman sepekerjaan (dan mudah-mudahan teman hidup hehe)— ia menyoroti soal konsep dasar negara— yang menurutnya lebih baik berlandaskan Islam yang baik pada sesama. 

Lalu timbul pula sepatah dua pendapat, Harun Suadi, si ahlus seni wal desainnya Salman Media. Ia membuat pernyataan yang jederr tapi saya sepakat. Bahwa masa Quraisy adalah masa postmodern purba. He?

Kami sepakat jika zaman postmodern ialah zaman dimana orang-orang bertahan hidup dalam kekacauan. Mereka tidak setuju terhadap tatanan atau sistem yang utuh.

"Postmodern merayakan kekacauan, intinya itu."

Kini, masyarakat Indonesia mencoba bertahan hidup dengan ketidaksempurnaan tatanan sistem itu. Yang penting gue bisa hepi menurut versi gue dah (punya anak lima, bisa berkebun, tas Mango edisi termutakhir bisa kebeli, menang indonesia’s got talent— peduli banget deh sistemnya apa).

Cik atuh cik, kan jadi sekarakter zaman Quraisy dulu. Dimana ada ketimpangan dari tatanan ideal yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim. Kemudian keturunannya “menambal-sulam” (it’s so postmo) paham-paham sistem lain dengan mengabaikan prinsip. 

Cocoklogi abis. Tapi senang bisa berdiskusi di tengah sumpeknya rutinitas. Alhamdulillah  

Mari kemari
menarikan jiwa raga yang lelah,
di oase budaya dua harian:
PASAR RAKYAT SALMAN ITB :D

More Information