grauk




TRISTIA RISKAWATI.

"Biar aL4y yang penting berbahagia dunia-akhirat."


twitter | goodreads
Ask me anything

pikiran minimalis ihwal poligami.

Apa daya seorang istri menahan suami untuk tak berpoligami? 

Walaupun sah sang istri ungkapkan enggan, bukankah seorang manusia tak memiliki manusia lainnya? 

Begitupun seorang istri. 
Sejatinya, seorang istri tidaklah memiliki suaminya. 

Namun, suaminya milik Allah.

Istri, jangan biarkan hawa nafsumu menghalangi kepemilikan Allah atas suamimu. 

Dan, ketahuilah, wahai suami, jika engkau memutuskan untuk berpoligami, pastikan jika keputusanmu didasari karena kepemilikan Allah atasmu. Bukan didasari atas engkau yang ingin memiliki perempuan lain.

Bukan pula didasari atas hawa nafsu yang berhasil memilikimu, hei suami. 

Wallahu’alam bish shawab.



*Gambar dari sini.

teruntuk ai, prabowo, dan jokowi.

Sudah lama tidak tulas-tulis, nih.

Entah. Sepertinya terlena dengan titel kesarjanaan baru. Memangnya kalau sudah jadi sarjana berarti jadi boleh malas menulis, hei, Nona Tristi?

TIDAK! 
Oke, mari menulis lagi!

Sebenarnya, buanyak sekali kelabatan pemikiran yang ingin kutumpahkan. Mulai dari preferensi politik, isu gender, kisah sahabat Nabi, poligami, jurnalisme warga, dan cuatan pemikiran aneh lain yang dapat keluar secara menggemparkan dari otak nerdy-ku. Halah.

Namun, malam ini kukhususkan membuat entri tulisan untuk seorang rekan seper-salman-an (merujuk pada Masjid Salman ITB, tempat tumbuh kembang kami pada masa pascaremaja) dan juga rekan seper-dangdut-an (jiwa kami mengalir dalam hentak irama yang serupa, halah).

Ai bilang walaupun ia sedang tidak tidak apa-apa (berarti sedang apa-apa) karena suatu hal, di kepalanya hanya terpikir kalimat hamdalah.

Bukankah sebenarnya kita tidak pernah tidak apa-apa. Pasti selalu apa-apa. Tapi apakah ke-apa-apa-an tersebut kita tanggapi secara tepat atau terlena karenanya?

Dalam fase terendah seorang makhluk Tuhan, aku jelas tengah diuji olehNya. Berprasangka buruk terhadap takdirNya sehingga tak mau berjuang lagi ialah godaan luar biasa binalnya. 

Sedang dalam fase tertinggi seorang insan pun, aku sejatinya kembali diuji. Aku dilenakan karena merasa sudah terlampau cukup dengan keadaan diri sendiri. Akhirnya, aku pun stagnan dan kian tak berkembang.

Ayat ke-35 dalam surat Al-Anbiya mengatakan “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” 

Keburukan dan kebaikan, pada hakikatnya berada dalam satu kategori: COBAAN. :(

Keburukan bagi kita, bisa jadi ialah berkah berbalut ujian. Sedangkan kebaikan bagi kita, bisa jadi merupakan ujian berbalut berkah. 

image

Teruntuk Ai, semangat. Segenap jiwa dangdutmu Insya Allah kuasa melewati segala rintangan dalam hidup dan lintasan pikiran buruk dalam benak! Yeay.

Sekalian juga deh untuk mantan capres 2014 kali ini, salam hormatku untuk Prabowo dan Jokowi. :p

Ketahuilah, menang dan kalahmu ialah cobaan namun juga berkah. Legowo dan waspadalah. Sesungguhnya kita semua milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. 

*Sok iyey banget deh gue.* 



*Gambar dari koleksi pribadi.

jika terlahir dari rahim seorang zionis, bagaimana?

image

Mengenai penyerangan di Gaza— disertai dampak kemanusiaan maha mengenaskan— tentu diri ini tak setuju mampus akan kebiadaban itu.

Namun, sepaket pertanyaan menggelitik hinggap di benak.

Bagaimana jika diri ini terlahir dari rahim ibu yang tergabung dalam keluarga zionis?

Bagaimana jika diri ini dibesarkan dari lingkungan zionis yang berambisi dahsyat mencaplok wilayah-wilayah Palestina? :(

Manalagi jika sang ayah, kakek, guru, begitu rajin menanamkan akan mimpi ihwal direbutnya kembali “tanah yang dijanjikan”. Mimpi itu kemudian menggerayangi diri dan diabadikan sebagai panggilan spiritual.

Jika telah begitu, bagaimana diri ini— yang sudah terlanjur dibasahkuyupi oleh ideologi zion— bisa terbebas dan berpikir bahwa apa yang sudah kadung dipelajari ialah sekumpulan kekejian fatal?

Bagaimana nasib diriku? Aku yang ceritanya lahir dari rahim zionis harus bagaimana untuk mengecap nikmatnya kebenaran hakiki?




"Sesungguhnya tali simpul Islam akan pupus sehelai demi sehelai, apabila tumbuh dalam Islam orang yang tidak mengetahui perkara-perkara jahiliyah (kebatilan)."

-Umar bin Khattab

*Gambar dari sini.

Hei ho. 
Mari setor #tiganikmat hari ini.

1. Kopi item yang sampai sekarang bikin cenghar. 
2. Kedatangan bala bantuan rekan-rekan SMA yang kreatif nan uculZ untuk meliput berita Ramadhan di Masjid Salman ITB.
3. Diri ini yang menyemangati diri untuk “Bertahanlah mendengar pertanyaan konyol kamu kepada narasumber saat mentranskrip rekaman! Itu juga jihad!”

Hehe. Remeh tapi berkesan. 
Semoga semakin menyadari kalau nikmat Allah itu buanyak buener walau tampak konyol pada awalnya. 

Alhamdulillah. :)



*Sumber gambar dari sini.

jadilah elang sekaligus cacing,

image

Dunia punya segala keluh kesah yang bikin kita mabuk kepayang jika meladeninya. Ribuan jumlah kelumit rumah tangga si dunia, bahkan lebih, terus menghantui kita— Media memperparah penyuaraan kelumit-kelumit itu hingga dunia seolah memelas dicarikan solusi.

It ain’t over till it’s over. Nyatanya, paket-paket dilema dunia ini tumbuh dari jangkauan terdekat hingga jangkauan terjauh dariku.

Mulai dari berita tentang tetangga seRW yang suka buang mebel di kali sehingga menyebabkan banjir, petani Waduk Cirata yang sulit panen ikan karena musim penghujan, kisruh petani karawang, pesta pemilu, hingga loncat ke pendirian khilafah ISIS yang bahkan oleh beberapa kalangan masih dipertanyakan sah atau tidaknya.

Kalau dipikir-pikir, mengetahui hal-hal yang bersifat transnasional seperti polemik ISIS atau Gaza adalah hal yang perlu. Salah, menurutku, ketika aku tidak mau tahu tentang berita-berita internasional macam itu. Mengetahui kabar dunia membantuku untuk tahu posisiku ada dimana.

Ini sama seperti elang yang terbang untuk mengetahui dimana posisi ia pertama bertolak.

Namun gawat benar jika melupakan hal-hal di sekitar kita. Di belakang kita, mungkin ada tetangga kita yang ternyata sudah tiga hari belum makan, penerimaan siswa baru kota tempat kita tinggal yang katanya rawan calo, kawasan Bandung Barat yang belum tegas dalam peraturan izin bangunannya, pencemaran pabrik… dan masih banyak lagi. 

Selepas terbang laksana elang untuk memandang garis besar dunia, manusia terkadang perlu menjadi cacing. Manusia perlu menggeliatkan nurani dan pikirnya untuk merasakan “cadasnya” kehidupan bumi tempat ia tinggal. 

Berpikir global, bertindak lokal. Buat apa berpikir dalam tataran besar jika tidak respek pada hal-hal kecil. Buat apa respek pada hal-hal kecil jika tidak ditujukan untuk mimpi yang besar. Ini #sikap -ku, Saudaraah.

Tris, jadilah siluman elang yang berpikiran luas, sehingga kau bisa menuntun dirimu dan orang-orang terkasihmu untuk mengetahui posisi kalian. Namun menjelmalah pula sebagai siluman cacing, sang pemilik geliat yang mampu menyuburkan bumi tempak ia menjejak.

Wallahu’alam. :)




*Gambar dari sini.

More Information