grauk




TRISTIA RISKAWATI.

"Biar aL4y yang penting berbahagia dunia-akhirat."


twitter | goodreads
Ask me anything

tidurku (bukan) pelampiasanku

image

Kemarin, aku baru bertemu teman satu SMA. Kami berbincang banyak hal. Mulai dari proyek liputan desa-desa yang kucoba bangkitkan kembali, dunia pascakuliah, karakter universitas kami masing-masing, dan lain sebagainya.

Entah mengapa, alur obrolan yang ngalor ngidul itu sampai juga pada tema “kebiasaan bablas tidur”. Rupanya, kami berdua kembaran memiliki problem tidur yang sama. Jadwal tidur kami masih kurang teratur. 

Aku pribadi menganggap tidur adalah aktivitas pelampiasan stres paling manjur. Jika tidak salah, kawan yang mempelajari psikologi menyebut segala bentuk aktivitas pelampiasan sebagai “katarsis”.

Temanku yang kujumpai kemarin memiliki katarsis serupa. Namun, walaupun tidur bisa menghilangkan stres yang kami rasakan, pada kenyataannya kami stres kembali. Alurnya seperti ini:

1. Stres
2. Tidur/ketiduran/kelamaan tidur karena stres
3. Stres kembali. Ini disebabkan karena tidur yang terlalu lama. Beberapa kerjaan walhasil jadi molor pelaksanaannya. Tambah deh sutres.

Duh. Hehe.
Pernah merasakan hal serupa?

Ya, memang tidur bisa menghilangkan stres, sih. Murah lagi. Lebih mending lah, daripada pergi ke tempat karaoke atau minum bir buat menghilangkan stres. Haha.

Tapi kalau kerjaan jadi molor gara-gara kebanyakan tidur kan jadinya “nggak banget” juga. :(

I wanna divorce my bed.

Iya, ya, harus mengusahakan pelampiasan stres lain. Sebenarnya, bukankah dengan mengingat Allah SWT, sepatutnya hati menjadi tenang. Whoa. Ar Rad ayat 28, Cuy

Kudu perkuat lagi hubungan dengan Allah, agar kekuatan untuk menghilangkan stres bukan datang dari tidur yang kelamaan, melainkan dari ridhaNya. 

Oh ya. Berstrategilah. 

Seperti temaku yang kemudian menyarankanku memakai aplikasi Android bertajuk “Sleepy Time”. Konon, aplikasi ini akan membantu kita menyalakan alarm sesuai dengan siklus tidur kita. 

Ketika bangun pun, insya Allah tubuh kita akan bugar karena tidak bangun pada saat fase tidur yang belum pas untuk bangun. 

Apapun itu, mari rekonsiliasi. Muhasabah. Berbaiksangka pada Allah.
Yuk.


*Foto dari koleksi pribadi

Assalamu’alaykum. Heyho, kawan keren.

Sekitar dua tahun yang lalu, saya pernah punya proyek bikin buku. Buku ini rencananya akan berisi liputan mengenai desa-desa inspiratif yang dikerjakan oleh para penulis relawan. Diharapkan, buku ini dapat menciptakan mindset “desa nggak kalah keren sama kota kok!” kepada pembacanya.

Namun proyek ini mandek karena saya memiliki fokus kerjaan yang lain (baca: serakah ikut beragam kegiatan :[). Oleh karena masih menyimpan keyakinan bahwa proyek ini harus rampung agar bermanfaat, saya berniat melanjutkannya lagi dengan perbaikan manajemen.

Menyadari jika proyek ini akan sulit dikerjakan sendiri, berminatkah teman-teman untuk membantu? Saya butuh relawan yang dapat mengisi tim inti (minimal terdiri dari: administrasi, publikasi&desain, fundraising). Tentu saja, dibutuhkan pula minimal 7 peliput relawan yang mau meliput desa-desa inspiratif di penjuru Indonesia.

Jika tertarik dan ingin info yang lebih detail, hubungi saya ya di 081320225118. :)

#ruralrocks #relawan

Tidaklah kita merdeka karena dapat melakukan segala ingin dan angan. 

Adalah merdeka yang hakiki— jika dalam dan luar kita kembali berpusar pada fitrahNya. 

Merdeka dalam “ketidakmerdekaan”.
Sulit dipahami.
Namun mudah bagi yang telah mengecap indahnya tauhid.

Ajaja.

mcTempe

image

Sewaktu kecil, aku suka ngambek kalau diberi makan tempe. Aku lebih suka makan kentang goreng McD. Menyadari hal itu, akhirnya Papa bilang gini:

"Mbak, makan tempenya! Tau nggak sih kalau makanan di McD Indonesia tuh yang aneh-aneh di negeri ini kayak McBurger atau McFries. Tapi kalau di Amerika tuh malah Tempe makanan aneh dan langka, makanya di McD Amerika adanya McTempe!"

Dudulnya, aku percaya.

Kendati aku tahu itu bohong, terdapat tiga manfaat yang kurasakan ketika si Papa mengemukakan pernyataan di atas.

Pertama, aku jadi suka makan tempe. Yeay alhamdulillah.

Kedua, pelajaran “Rumput tetangga selalu lebih hijau”. Namun sebenarnya orang yang pandai bersyukur (termasuk bersyukur pada makanan potensi daerahnya semisal tempe) punya prinsip “Rumput tetangga memang hijau, tapi jika aku menyiram rumput halamanku niscaya akan sama hijaunya, kok.”

Ketiga, aku menyadari bahwa ketika kecil aku terjangkit virus postkolonialisme. Secara singkat, postkolonialisme adalah penjajahan suatu kaum yang bukan dalam bentuk wilayah saja— namun lebih jauh lagi penjajahan dalam hal “budaya”.

Rupanya aku pernah dijajah budaya-memakan-fastfood-Amerika yang tidak menyehatkan.

Hem. Haha. 
Dari McTempe ke postkolonialisme, okay.




*Foto dari sini.

empat manfaat fotografi jalanan.

Aku bukan fotografer. Apalagi fotomodel. Hehe. Aku hanyalah anak ingusan (halah) yang diamanahi DSLR pemberitan orang tuaku. 

DSLR-ku ini sayangnya belum kugunakan maksimal. Namun, sesekali aku sok-sok menjadi turis di kota sendiri dan berburu foto menggunakan benda itu. 

Beberapa orang lebih suka menyebutnya aktivitas “street photography” atau “fotografi jalanan”.

Walaupun tidak sering-sering amat melakukannya, ada beberapa manfaat yang kudapat ketika melakukan aktivitas “fotografi jalanan” tersebut, diantaranya:


1. Melihat detail yang tidak biasa dilihat ketika memandangnya selintas

image

Apakah itu adalah paruh eksotis dari kawanan bangau yang kupotret di kebun binatang, atau kelopak bunga yang berserakan di jalan, atau bias cahaya kendaraan pada malam hari… Yang jelas keajaiban-keajaiban-Nya yang awalnya tersembunyi, tiba-tiba menampakkan diri secara indah lewat fotografi.


2. Menemukan sudut pandang yang tidak biasa dari objek foto

image

Mungkin, seorang ibu yang menggendong anaknya akan menjadi pemandangan yang biasa-biasa saja. Namun, jika kamu memotretnya dari sudut pandang yang pas, maka pemandangan tersebut dapat menghangatkan hati.

Aku sendiri pernah berburu foto di gang dekat Pasar Baru Bandung. Kulihat plang-plang merk elektronik bertebaran di atas bangunan. Aku pun memotretnya dari jembatan penyebrangan. Voila! Tiba-tiba aku merasa sedang berada di Tokyo tahun 80-an!


3. Melatih interaksi antar manusia

image

Biasanya, interaksi dimulai ketika ada seseorang yang memintaku untuk mengambil potret dirinya (karena melihat DSLR terkalung pada leherku). Kemudian aku menanggapi dengan tiga hingga lima jepretan. Setelah itu, kutunjukan kepada mereka hasil jepretanku sembari berkata “Cantik euy si Ibu/ Gagah lah Bapak/ Ih lucuu si Adee!”

Atau yang terjadi sebaliknya. Aku yang meminta duluan untuk memotret seseorang/sekelompok orang. Terkadang ajakan itu bersambut respon positif. Aku mendapat beberapa potret unik dari mereka. Jika beruntung, ada bonus cerita dari manusia yang kufoto. Namun terkadang ajakan itu ditolak mentah-mentah. It’s okay.

4. Mengurangi hasrat berlebih untuk mengekspos diri


image

Bukan. Aku bukan tipikal orang yang mengharamkan selfie. Namun, melakoni fotografi jalanan membuatku semakin malas untuk men-selfie-kan diri. Serius. Haha.

Entah mengapa, ikan mujair yang meliuk-liuk di timbangan menjadi lebih menarik untuk dieksplor ketimbang paras elok mukaku (pret). Atau bagaimana becak yang dibuat dari bungkus kopi menandakan semangat go-green ternyata sudah menjalar di kalangan tukang becak. Contoh lain, aku antusias mengeksplor romantisme pasangan yang tengah memanen padi di suatu desa.

Seperti yang pernah kutulis dua tahun yang lalu:

Mungkin, fotografer tidak begitu suka difoto karena ia ingin agar orang tidak menilai ia dari bagaimana rupanya, dan bagaimana ia menampilkan diri kepada publik.

Melainkan, ia ingin agar orang lain memahami ide-ide dan pandangannya tentang dunia lewat panorama-panorama yang ia rekam dalam lensanya. Tidak hanya sekedar  ingin “dipahami” idenya, tapi ia ingin agar orang lain merasakan seni dari ide-idenya itu. 

****




*Foto-foto dari koleksi pribadi.

More Information