
Sehabis membuat liputan berita malam ini nih saya. I feel so alive! Sudah cukup lama saya tidak menulis liputan-liputan seperti saban hari lalu. Betapa nikmat proses penulisan berita tentang kuliah umum yang saya kunjungi siang kemarin!
Kuliah umum yang saya kunjungi adalah Serial Khazanah Pemikiran Penghulu Haji Hasan Mustafa pada Sabtu (18Mei2013) di Masjid Salman ITB. Jika kamu sudah cukup lama tinggal di Bandung, mungkin kamu familiar dengar nama itu karena itu nama jalan, Sob. Jika kamu suka makan kentang goreng kering juga pasti familiar dengan namanya (Kentang Mustofa! Haha). Nyatanya, beliau pernah menjadi penghulu (pengatur hukum agama) di Bandung selama 23 tahun sedari 1895.
Haji Hasan Mustofa (HHM), menurut makalah Hawe Setiawan (peneliti budaya Sunda) yang berjudul Dangding Mistis Haji Hasan Mustofa, berasal dari Cikajang, Garut, Jawa Barat, dan sejak kecil hingga dewasa belajar di lingkungan pesantren, baik di Tatar Sunda maupun di Tanah Jawa dan Madura. HHM juga mempelajari Islam di Arab Saudi.
Setelah dewasa, selama lebih kurang sepuluh tahun, HHM bermukim dan mengajar di Arab Saudi, sebelum kembali ke Hindia Belanda dan bekerja sebagai Hoofd Penghoeloe Bandung. HHM pernah berkeliling Jawa kemudian bekerja di Aceh untuk membantu Snouck Hurgronje. Di Jawa Barat HHM dikenal pula dengan julukan “bagawan sirna di rasa”.
Setelah skimming melihat puisi-puisinya dalam makalah Kang Hawe, aduhai, kental sekali nuansa tasawufnya. Saya sendiri sebenarnya nggak terlalu tasawuf-geek gimanaa gitu. Namun saya cukup tertarik dengan konsep peniadaan unsur gue-sentris melalui tasawuf. HHM sendiri menganggap dunia dan seisinya ini hanyalah paesan jati, atau ornamen belaka. Jika paham ini dikembalikan pada Qur’an cocok kali ya dengan ayat ini:
”Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” —QS. Al Qashshas : 60
Yang saya suka dari HHM ini sebenarnya bukan unsur tasawuf dari DangDing-nya. Namun, ia kreatif melokalisasikan konsep global dalam syair-syairnya. Ia lihai mendeskripsikan konsep ketuhanan yang ia pelajari dari Arab melalui perumpamaan-perumpamaan yang dekat dengan alam Sunda.
Bagi HHM, Basa Sunda itu “…lebih dapat dipahami daripada bahasa lain, sejak aku dilahirkan hingga aku mengerti sebagian bahasa negeri yang dekat, dan dengan bahasa itu aku menafsirkan firman Allah Yang Mulia” (Rosidi, 1989: 463)
Saya menyebutnya dengan istilah “dikunyahkan sebelum diberikan”. Ia tahu masyarakat sekelilingnya akrab dengan bahasa dan adat Sunda. Oleh karena itu, ia “mengunyah” dulu ilmu-ilmu Islam dari tanah Arab, agar mudah dicerna oleh jiwa-jiwa orang Sunda pada saat itu. Sip, deh!
*Jika ingin lebih dalam memahami studi syair dangding yang dibuat oleh Haji Hasan Mustofa, klik di sini. Gambar dari sini.