grauk




TRISTIA RISKAWATI.

"Biar aL4y yang penting berbahagia dunia-akhirat."


twitter | goodreads
Ask me anything

izinkan saya mengemis di hari raya ini.

image

“Ayo kita mengemis sebentar.”

Saat itu tengah malam di Ekaterinburg, Rusia. Yao (entah nama asli entah nama samaran) mengajak pria yang meminta jasa terjemahnya, Paulo Coelho, untuk menggunakan gelas kertas bekas jus jeruk sebagai tempat menadah uang.

Ya. Paulo Coelho yang itu. Yang menulis buku tenar The Alchemist itu lhoh.

Coelho kontan kaget. Ia spontan membalas, “Mengemis? Dengar, aku belum pernah mengemis sejak masa-masa hippie-ku, lagi pula, itu akan jadi penghinaan besar bagi orang-orang yang benar-benar membutuhkan.”

Yao, seorang pria yang lahir dari dataran Cina lantas mendongengkan filosofi Buddha Zen kepada Coelho. Kegiatan mengemis, kisahnya, mengajarkan kerendahan hati pada biksu-biksu pemula. 

Sepenggal kisah itu tertera di novel-autobiografi Paulo Coelho yang berjudul Aleph. 

Mungkin Yao ingin menyelamatkan Coelho yang sedikit sombong dengan titel “penulis novel best-seller dunia” dengan mengajaknya mengemis.

Yao mungkin ingin mengingatkan— bahwa segala titel yang menyemat pada diri ini bukan apa-apa. Hal ini membuat beberapa orang, termasuk biksu, merelakan dirinya untuk mengemis.

Mengemis duit, dinilai mengajarkan kerendahan. Mengemis ialah penyembuh manusia yang mengganggap gelar, kekayaan, serta prestasi ialah perlambang tingginya derajat.

Filosofi itu memang masuk di akal dan dapat dipahami. Namun, pahamku tak berarti tanda setujuku.

Saya teringat pepatah Ali bin Abi Thalib r.a menyoal ilmu. Beliau bilang seperti ini, “Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau, dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim), dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan.”

Buat apa mengemis harta? Toh, harta dijamin olehNya dan selalu cukup jika kita pandai bersyukur. Justru, harta dalam jumlah sedikit dan banyak pun dapat menjatuhkan kita dalam nista.

Imam Ali kan bilang ilmu yang lebih penting dibanding harta, lalu bagaimana dengan mengemis ilmu?

Dalam setahun terakhir, alhamdulillah “dipaksa” untuk melakukan itu. Mengemis ilmu.

Oktober kemarin, saya yang sudah merasa mantap dengan ilmu jurnalisme saya tiba-tiba dijebloskan ke desk Ekonomi Koran Tempo Jakarta. Mana ngerti gue sama obligasi, cadangan devisa, low cost airplane, dan apa-apa sejenis itu? Ouh, belajar lagilah saya.

Kemudian mulai Februari, saya kembali dibuat malu ketika magang di radio PRFM News Channel, Bandung. Lewat peran redaktur dan reporter yang saya jalani di media tersebut, nyatanya banyak sekali unsur lokalitas kota tempat saya hidup yang baru saya ketahui. 

Terhitung Mei tahun ini, saya pun mulai mengerjakan tugas akhir. Beberapa kali saya diomeli dosen pembimbing saya mengenai kecolongan-kecolongan remeh namun penting yang saya lakukan. Kembali diingatkan diri ini bukan apa-apa. Alhamdulillah.

Kusimpulkan, cara ampuh untuk menyembuhkan diri dari sifat merasa diri ini lebih— yaitu dengan mengemis ilmu ya?

Tiba-tiba duduk di seminar parenting, dengan status masih sendiri, misal. Atau duduk mendengarkan ceramah tafsir Al-Fatihah di masjid antah berantah dimana orang sekelilingmu tak tahu siapa dirimu. Atau duduk nangkring di diskusi film kampus orang lain, misal. Asyik juga sepertinya. 

Mengemis ilmu bisa jadi melegakan. Kita yang terlanjur sombong karena titel kita mungkin perlu me-nol-kan diri dengan menuntut ilmu di luar zona nyaman kita.

Awalnya sakit ketika tahu kalau kita bukan apa-apa, namun perlahan yang ada adalah hati yang mengucap syukur. Kita telah diingatkanNya akan fitrah kita.

Mengemis ilmu mengingatkan kita akan fitrah kita sebagai manusia— yang dihebatkan karena kuasa Allah SWT— bukan karena diri ini yang menghebatkan diri sendiri.  ”….dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-Lah yang melempar” (QS. Al-Anfaal; 17)”

Mengemis ilmu bisa jadi bentuknya sederhana. Misal saja, menerima kritik orang lain. Akhir-akhir ini saya kerapkali dikritik dalam berbagai kesempatan. 

Entah kritik tersebut sepenuhnya benar atau salah, datang dari orang yang sepaham maupun bersilang-paham, atau datang dari orang yang betul-betul mengenal saya atau yang bahkan tak pernah bertemu saya. Nyatanya, kritik manusia jenis apapun mengingatkanku untuk selalu bertawadlu.

Kritik orang lain menunjukkan jika saya tidaklah pantas untuk berdiri pongah dan merasa benar. Tidaklah juga pantas bagi saya untuk tidak kembali mengevaluasi segala tindak-tanduk dan laku ucap yang sudah saya manifestasikan pada semesta.

Rasanya nyesek ya, ketika pertama dihantam kritik. Namun jika kritik tersebut direnungi, luar biasa hati mengucap alhamdulillah, sudah sedemikian diingatkan Allah jika diri bukanlah apa-apa tanpaNya.

Terima kasih sudah mengingatkan, para makhluk ciptaan-Nya. Baik sadar maupun tidak, sesungguhnya teman-teman adalah perantara-Nya untuk menjagaku agar tetap terhubung dengan-Nya. :)

Sudah sehari seusai Hari Raya Idul Fitri. Sadar betul akan diri yang masih terbelenggu dengan sikap ke-“aku”-an. Wahai bulan Ramadan, apakah kau telah membakar segala sikap-sikap turunan setanku?

Bagaimanapun, izinkan saya mengemis maafmu.

Lisanmu mungkin murah hati menderma maaf. Namun, izinkan permohonan maafku menghapus noda di relung jiwamu atas perilaku jahatku, walau belum bisa seutuhnya terhapus. :)

Hubungi saya secara pribadi, jika teman-teman merasa dipiutangi masalah oleh saya. Saya akan berupaya penuh seperti Amirul Mukminin Umar bin Khattab, tersenyum berlapang dada ketika dikritik keras oleh seorang perempuan yang ternyata memang benar isi kritiknya.

Jika sanggup dan selama tak melanggar prinsip keislaman saya, saya berupaya akan membayarnya. :)

" “الحمد لله الذي جعل لي أصحابا يقومونني إذا اعوججت”"

"Segala puji bagi Allah yg telah memberikan untukku sahabat-sahabat yang meluruskanku jika aku salah"


Sayyidina Umar bin Khattab RA

*Foto koleksi pribadi

Salah satu kebahagiaan menyukai band indie— terlebih yang lagu-lagunya mengandung lirik-lirik aduhai adalah kamu bisa mengunduh beberapa lagu mereka secara gratis.

Band lokal asal Bali “Dialog Dini Hari”, lewat akun Soundcloud mereka, rupanya memperbolehkan kita mengunduh tiga lagu mereka secara gratis. Yay!

Apalagi kini aku tengah berusaha untuk “hijrah” dari mental bajak-membajak hasil karya orang lain. Malu sama sebuah desa yang sudah menggunakan open source dalam perkomputeran mereka karena tidak mau pakai bajakan. Hehe. Doaken.

Anyway, ketiga lagu gratis ini aku sukai semuanya. Betapa kaya makna liriknya, betapa renyah melodi lagunya. Iramanya Indonesia sekali. :D

Sepincuk Kisah dari Melung (1): “Soal Internetan, Bapakku Lebih Gaul!”

image

Tulisan ini dibuat atas permintaan dari Pak Gino (Margino), Kepala Urusan Keuangan Desa Melung sekaligus “Pemred” situs http://melung.desa.id/. Sudah lebih dari sebulan yang lalu beliau meminta tulisanku tentang Melung. Namun aku baru bisa menyelesaikannya beberapa hari setelah sidang skripsiku.

Selamat menikmati. 


“Bapakku yang lebih jago, lebih gaul.. yang pertama ngajarin aku onlinefacebook-an,twitter…”

Nyengir lebar si bibir ini tatkala mendengar pernyataan unik dari Lilis (16). Di rumah bersahaja yang terletak di tepi lereng Gunung Slamet, Lilis sedang diwawancarai dalam rangka pengumpulan data untuk tugas akhir saya pada Rabu, (4/6) lalu. Pemudi yang tinggal di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas ini berkebalikan dengan saya.

Nun jauh di Bandung, sayalah yang mengajarkan kedua orangtua memainkan media sosial. Sedangkan Lilis, ayahnya yang malah mengajarinya.

Margino, ayahanda Lilis, rupanya dijuluki sebagai pemimpin redaksi situs resmi desa mereka. Ulala, pemimpin redaksi? Wait up, situs resmi desa? Eh, desa punya situs? Keajaiban jenis apa lagi ini?

Yep. Desa Melung merupakan salah satu desa penggagas gerakan pemberdayaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk kawasan perdesaan di tiap sudut negeri. Mereka menamai gerakan mereka dengan Gerakan Desa Membangun (GDM). Kombinasi kata dari nama gerakan ini bukan tanpa makna.

“GDM ini semacam sindiran-sindiran halus kepada pemerintah atas. Desa selama ini seolah-olah selalu diberi,” ujar Agung Budi Satrio, salah seorang pegiat GDM di Melung. “Kita biasa dijejali dengan jargon dari pemerintah: “membangun desa”. Ini berarti kan orang lain yang membangun. Dengan GDM, kami berupaya bagaimana desa yang membangun, diwakili dengan ‘Desa Membangun’.”

Ayah Lilis, Margino, pun sempat kuwawancarai. Dengan titelnya sebagai “pemimpin redaksi” Margino merupakan pengelola utama yang senantiasa menjaga situs dan media sosial agar tetap terisi konten dan interaksi. Bersama dengan delapan perangkat desa lain, Kepala Urusan Keuangan Desa Melung ini pun berupaya memasyarakatkan TIK di kalangan masyarakat desa.

“Pada saat ronda paling, kan ada jaga malam untuk perangkat desa dan warga lain. Nah, biar nggak ngantuk, setel youtube wayang. Kita sih nggak terlalu memaksa harus begini harus begitu yang penting senang dulu,” ujar Margino, berkisah tentang upayanya memperkenalkan TIK pada warga desa. Remeh, namun bertahap.

Terhitung, baru 10% dari keseluruhan warga Melung yang mahir memanfaatkan TIK dengan baik. Margino mengaku, dirinya tak terlalu memaksakan warganya untuk simsalabim langsung lihai memainkan internet. Ia berpesan kepada rekan sekampungnya, jangan sampai mereka lebih sering melihat dunia luar. Sebisa mungkin, justru orang luarlah yang melihat mereka.

“Saya pernah membuat satu video, aktivitas sehari-hari, yaitu kegiatan menyadap nirah kelapa hingga membuat gula. Mereka jadi tertarik, padahal itu sudah menjadi pandangan sehari-hari. Setiap ditampilkan tuh senang. Ya kalau mau lihat film, kita bikin sendiri saja,” tuturnya mantap.***




Bersambung.
Tulisan ini juga dapat dilihat di sini. Gambar dari koleksi pribadi.

Carl Honore - In Praise of Slowness

"Nyatanya, kata "lamban" sering diidentikkan dengan "kemalasan" dan hal-hal negatif lainnya. Padahal terdapat jenis "lamban" yang baik seperti menyempatkan makan bersama dengan keluarga tanpa TV menyala, atau menyediakan waktu untuk melihat segala permasalahan dari beragam sudut pandang yang berbeda untuk membuat keputusan terbaik dalam pekerjaaan kita." 

Carl Honore,
jurnalis dan penulis buku In Praise of Slowness.



Yay alhamdulillah! Dapet presentasi TED Talks yang oke punya. Lagi! 

Presentator kali ini adalah seorang jurnalis (ini dia yang bikin saya banyak meng-he’eh-kan pendapatnya, we’re both journalist~)— yang merasa manusia kekinian hidup dalam tempo yang terlalu cepat.

Ketergesaan ini akhirnya melahirkan pribadi yang tak terlalu peduli apakah dalam ragam ketergesaan tersebut dirinya bahagia secara hakiki, tak peduli apakah anaknya tumbuh dengan baik, bahkan cenderung tak peduli makna akan pekerjaannya.

Terpikir jadi ingin membuat gerakan jurnalisme lamban, dalam artian tidak tergesa-gesa dalam menyimpulkan sesuatu dalam pemberitaannya. Hehee.

Sudah ada sih yang keidean jurnalisme jenis tersebut. Ada The Charta yang digagas oleh Charles-van de Put. Kata beliau “We will concentrate on the bigger picture, events that matter on the mid to long term.”

Hemm.

Ngomong-ngomong, untuk transkrip presentasi dari Carl Honore dapat dilihat di sini. :D

pikiran minimalis ihwal poligami.

Apa daya seorang istri menahan suami untuk tak berpoligami? 

Walaupun sah sang istri ungkapkan enggan, bukankah seorang manusia tak memiliki manusia lainnya? 

Begitupun seorang istri. 
Sejatinya, seorang istri tidaklah memiliki suaminya. 

Namun, suaminya milik Allah.

Istri, jangan biarkan hawa nafsumu menghalangi kepemilikan Allah atas suamimu. 

Dan, ketahuilah, wahai suami, jika engkau memutuskan untuk berpoligami, pastikan jika keputusanmu didasari karena kepemilikan Allah atasmu. Bukan didasari atas engkau yang ingin memiliki perempuan lain.

Bukan pula didasari atas hawa nafsu yang berhasil memilikimu, hei suami. 

Wallahu’alam bish shawab.



*Gambar dari sini.

More Information