grauk




TRISTIA RISKAWATI.

"Biar aL4y yang penting berbahagia dunia-akhirat."


twitter | goodreads
Ask me anything

aku yang ideal, mereka yang dangkal?

image

Aku yang mendekati ideal (karena merasa lebih berilmu),
dan mereka yang dangkal (karena belum berilmu sepertiku)?

Atau jangan-jangan akulah yang dangkal (karena pongah),
lantas sebenarnya mereka yang lebih ideal (karena upaya mereka perbaiki diri lebih giat dibanding diri ini— dengan keadaan awal mereka yang tak seideal diriku)?

Maaf maaf maaf, ya Rabb.
Jika selama ini aku tak kuasa memahami perbendaharaanMu.

Sungguh mutlak adanya, jika perbendaharaanMu mencakup kalam samawi.

Namun, termasuk pula dalam perbendaharaanMu
~alam manusia— yang sering abai aku terhadapnya.







"Barang siapa yang dapat mengetahui rahasia para hamba namun tidak meniru sifat kasih sayangnya Tuhan, maka pengetahuannya itu menjadi bencana dan sebab bahaya bagi dirinya."

—Ibnu Athaillah, Matan Al-Hikam

*Gambar dari sini.

Grey Reverend - Everlasting

Ulat meliuk,
belalang memanjat bunga,
serta musisi afro-amerika-yang-tumben-tumbenan-ada yaa-yang-menghayati-hidup-lewat-musik-folk pun— dalam video ini pun jauh lebih eksotis.

—ketimbang gadis setengah telanjang bergelimpangan dalam video musik biduan RnB.

:)

"Jangan-jangan ketika kita bilang orang lain dogmatis, sebenarnya kita sendiri sedang terdogma oleh emosi kita sendiri. Bukan dibimbing oleh cahayaNya."

Secuil bagian dari ragam obrolan ceciwi malam minggu bersama Nadhira Rizki.

Jalan kaki pulang.

Sempat cemberut karena berjalan terlalu sore mepet ke malam.
Namun di antara sore dan malam, ada senja indah mengiringi tiap langkah menuju rumah.

Jingga berbaur biru berpadu dalam kanvas langitNya. 
Begitu luas. Begitu agung.

Laju lalu lintas padat, sedang si Nona melaju lelah namun bersyukur.
Mari jalan kaki, hitung-hitung latihan kurangi konsumsi BBM. Hehe.

islam yang ditemukan dalam do’a hindu.

image

Namanya I Nyoman Pugeg Aryantha. Ia dikenal sebagai dosen spesialisasi jamur di Sekolah Ilmu Teknologi Hayati ITB.

Nyoman ditakdirkan lahir sebagai sesosok hindu di Bali. Kedua orang tuanya telaten merawat adat hindu dalam kehidupan mereka. Sedari kecil, Nyoman diajari pelbagai ritus keagamaan khas hindu Bali.

Menginjak kuliah, Nyoman, sebagai seorang intelektual— merasakan kegamangan antara perannya sebagai intelektual dan identitas keagamaannya.

Di suruh menyembah Tuhan, kok malah menyembah dewa-dewa? Malah menyembah banyak?

Di lain sisi, ia pun banyak bersinggungan dengan beragam muslim. Beberapa praktik keislaman sederhana seperti mengucap “Assalamu’alaykum”, “Insya Allah”, fasih ia lakoni.

Oleh karena gamangnya itu, kemudian ia berdo’a. Ia minta diberikan jalan keluar atas badai pikirannya itu. Trisandya, salah satu do’a umat Hindu, ia lakoni.

Hingga tibalah suatu saat dimana komputernya rusak. Data-datanya hilang. 

Bingung bukan main atas musibah yang menimpanya, menyeruaklah secara tak terduga pemikiran gila di kepalanya. “Kalau Islam itu benar, benarkanlah komputer saya ya Tuhan!”

Voila! Beberapa saat kemudian, komputernya pun sembuh seperti sedia kala. Ia kaget bukan main.

"Bi..bi..bicara apa saya tadi?"

Namun, ketakjubannya itu ia patahkan dengan nada pesimis. Nggak mungkin saya masuk Islam, dengan keadaan keluarga saya yang memegang adat hindu Bali sedemikian patuh.

Akhirnya, terkuburlah dalam benak niatan untuk menyelami Islam lebih lanjut.

Beberapa tahun kemudian, sebuah insiden menyambar kesadarannya. Saat berdo’a Trisandya, lilin yang ia taruh untuk ritual do’anya tersenggol. Kemudian, api dari lilin tersebut membakar poster dewa yang ada di depannya.

Dari situlah, ia mulai mempertimbangkan untuk mempelajari Islam.

Kini, ia sudah menjadi muslim, memiliki istri muslimah, dan cukup berhasil meyakinkan keluarganya mengenai kebaikan nilai-nilai Islam.


***


Kisah nyata di atas disampaikan pada saat Nyoman menjadi pembicara diskusi “Budaya Bali dan Kehidupan Beragama” pada Ahad, 31 Agustus 2014 silam di Salman Reading Corner.

Nyoman menunjukkan pada kita suatu upaya sederhana dalam pencarian kebenaran. Uniknya, jawaban “Islam” sebagai upaya pencarian itu didukung oleh do’a Hindu yang Nyoman rapal.

Mengapa saya katakan kebenaran? Karena saya yakin, Islam adalah sang muara kebenaran hakiki.

Untuk saat ini, saya tidak akan berbicara mengenai keabsahan dan rupa-rupi mengenai otentisitas Islam sebagai kebenaran mutlak.

Tidak. Saya tidak ingin menekankan jika komputer yang tiba-tiba benar adalah pertanda Islam itu benar. Atau api yang membakar poster dewa Hindu adalah pertanda kebenaran Islam.

Allah SWT berkomunikasi pada manusia lewat berbagai cara. Baik dengan proposisi logika yang ditawarkan Alquran pada seorang Profesor Bahasa asal Prancis, maupun yang kemudian diakhiri dengan lengking merdu azan di padang pasir.

Saya hanya ingin menekankan satu hal.

Do’a.
Ya, orang beragama biasa menyebutnya Do’a.

Apapun agamamu, atau apapun jenis ketidakberagamaanmu— berbisiklah pada kekuatan besar pengatur alam semesta ini untuk menunjukanmu pada kebenaran hakiki. 

Bahkan, do’a seorang Hindu pun— saya garisbawahi: dengan cara Hindu pun— dapat mengantarkan seorang Nyoman pada kebenaran hakiki. :)

Jadi geng, baik kamu yang sudah shalih bukan main, hindu, kristen, agnostik, atheis, dan sebagainya~ cobalah berdo’a (atau apapun yang sejenis) untuk didekatkan pada kebenaran.

Terkadang, setelah kita berdo’a (atau apapun yang sejenis), semesta dengan sinyal-sinyalnya (baik dalam hati nurani maupun eksternal luar kita) memberi petunjuk kemana kita melangkah.

Jika kita jujur dan rela, melangkahlah kita.
Jika kita menafikan petunjuk tersebut, berpalinglah kita.

Mungkin hingga akhir hayat, kebenaran belum terwujud sempurna dalam pencarian. Seperti pecandu kokain di New York. Mungkin ujian yang Allah beri agar ia selangkah mendekati kebenaran baru sebatas “berhenti dari kokain”.

Memang harus jujur. Seperti saya. Mana ada saya punya rencana jadi orang religius? Mana ada saya berencana buat berjilbab panjang? Mana ada lima tahun lalu saya punya rencana buat tiap hari pergi ke Masjid, ngurusin medianya secara rutin?

Namun, setelah sering berdo’a sederhana minta diberikan petunjuk; semesta seolah-olah menuntun. Hati nurani terketuk, meski batin berontak.

Rasanya berat diri ini untuk membuka pintu hati. Namun tak mau juga diri ini menutupnya lantaran tahu: bahwa semesta sudah tunjukkan apa yang seharusnya saya lakukan.

Maka saya ikuti. Saya merespon sinyal-sinyal semesta— atau saya yakini sebagai “tanda-tanda Allah”. 

Kendati demikian,  hingga kini saya masih suka berperang dengan hawa nafsu sendiri kok. 

Hehe.

Hey, atau mungkin mekanisme pencarian kebenaranmu tidak mengenal istilah berdo’a? Namun dengan serentetan fakta-fakta yang meyakinkanmu? :)

Sepengalamanku, do’a mempermudah segalanya.
Namun, semua kembali pada pilihan masing-masing, bukan?  :)



*Gambar dari sini.

More Information