1. tips bagi pemilik ponsel pintar yang ingin tetap menjadi manusia.

    1. Ambil foto sebanyak yang kamu mau tapi diposting ke media sosialnya pas di rumah aja.

    2. Ketika berada di tempat umum dan ada orang yang memungkinkan untuk diajak bicara, bicaralah sama doi. Jangan terpaku dengan ponselmu. Ketika bicara, tatap baik-baik wajah dan gesturnya. Be curious about what he/she’s talking about! Selalu tanamkan dalam jiwamu bahwa ada pelajaran berharga (baik maupun buruk) dalam tiap tutur kata lawan bicaramu. Singkirkan sejenak jari-jari dan matamu dari godaan ponsel.

    3 Anggap ponsel dan komputermu sebagai ALAT bukan MAJIKANmu. Anggap saja mereka sebagai obeng, atau stapler, atau doubletip. Yang namanya alat itu dipakai ketika diperlukan saja. :D

    4. Jangan lupa bismillah dan berdoa. Hehe



    *Disadur dari sini. Fotomodel: Si dede.

     

  2. Saya tidak perlu minta dibuatkan ruangan khusus untuk ruang kerja, cukup kugunakan saja kamar sertrikaan rumahku. Lumayan menyediakan ketenangan dalam taraf yang diinginkan dengan kucing tua berbulu sebagai ornamen. :p

     


  3. dikunyahkan sebelum diberikan.

    image

    Sehabis membuat liputan berita malam ini nih saya. I feel so alive! Sudah cukup lama saya tidak menulis liputan-liputan seperti saban hari lalu. Betapa nikmat proses penulisan berita tentang kuliah umum yang saya kunjungi siang kemarin! 

    Kuliah umum yang saya kunjungi adalah Serial Khazanah Pemikiran Penghulu Haji Hasan Mustafa pada Sabtu (18Mei2013) di Masjid Salman ITB. Jika kamu sudah cukup lama tinggal di Bandung, mungkin kamu familiar dengar nama itu karena itu nama jalan, Sob. Jika kamu suka makan kentang goreng kering juga pasti familiar dengan namanya (Kentang Mustofa! Haha). Nyatanya, beliau pernah menjadi penghulu (pengatur hukum agama) di Bandung selama 23 tahun sedari 1895.

    Haji Hasan Mustofa (HHM), menurut makalah Hawe Setiawan (peneliti budaya Sunda) yang berjudul Dangding Mistis Haji Hasan Mustofa, berasal dari Cikajang, Garut, Jawa Barat, dan sejak kecil hingga dewasa belajar di lingkungan pesantren, baik di Tatar Sunda maupun di Tanah Jawa dan Madura. HHM juga mempelajari Islam di Arab Saudi. 

    Setelah dewasa, selama lebih kurang sepuluh tahun, HHM bermukim dan mengajar di Arab Saudi, sebelum kembali ke Hindia Belanda dan bekerja sebagai Hoofd Penghoeloe Bandung. HHM pernah berkeliling Jawa kemudian bekerja di Aceh untuk membantu Snouck Hurgronje. Di Jawa Barat HHM dikenal pula dengan julukan “bagawan sirna di rasa”.

    Setelah skimming melihat puisi-puisinya dalam makalah Kang Hawe, aduhai, kental sekali nuansa tasawufnya. Saya sendiri sebenarnya nggak terlalu tasawuf-geek gimanaa gitu. Namun saya cukup tertarik dengan konsep peniadaan unsur gue-sentris melalui tasawuf. HHM sendiri menganggap dunia dan seisinya ini hanyalah paesan jati, atau ornamen belaka. Jika paham ini dikembalikan pada Qur’an cocok kali ya dengan ayat ini:

    ”Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” —QS. Al Qashshas : 60

    Yang saya suka dari HHM ini sebenarnya bukan unsur tasawuf dari DangDing-nya. Namun, ia kreatif melokalisasikan konsep global dalam syair-syairnya. Ia lihai mendeskripsikan konsep ketuhanan yang ia pelajari dari Arab melalui perumpamaan-perumpamaan yang dekat dengan alam Sunda.

    Bagi HHM, Basa Sunda itu “…lebih dapat dipahami daripada bahasa lain, sejak aku dilahirkan hingga aku mengerti sebagian bahasa negeri yang dekat, dan dengan bahasa itu aku menafsirkan firman Allah Yang Mulia” (Rosidi, 1989: 463)

    Saya menyebutnya dengan istilah “dikunyahkan sebelum diberikan”. Ia tahu masyarakat sekelilingnya akrab dengan bahasa dan adat Sunda. Oleh karena itu, ia “mengunyah” dulu ilmu-ilmu Islam dari tanah Arab, agar mudah dicerna oleh jiwa-jiwa orang Sunda pada saat itu. Sip, deh!

     

     

    *Jika ingin lebih dalam memahami studi syair dangding yang dibuat oleh Haji Hasan Mustofa, klik di sini. Gambar dari sini.

     

  4. Patrick Watson - Lighthouse

    Leave a light on in the wild
    ‘cause I’m coming in, a little blind
    Dreaming of a lighthouse in the woods
    shining a little light to bring us back home

    When to find you in the backyard?
    Hiding behind our busy lives
    Dreaming of a lighthouse in the woods
    to help us get back into the world

    ‘Cause I know
    I’ve seen you before
    Won’t you shine a little light
    on us now?

    Won’t you shine a little light
    in your own backyard?
    Won’t you shine a little light
    in your own backyard?
    Dreaming of a lighthouse in the woods



    ***



    Rumah cahaya itu mungkin terpendam di belantara kesibukan hidup tak terarah. Bahkan, bisa saja ia tenggelam jauh dalam pongahnya kesibukan hati tak terbimbing.

    Yuk, stop main petak umpetnya. Ayo cari lagi rumah cahayanya, kawan-kawanku yang keren. Biar kita makin kenal jalan pulang. 

    SabdaNya dalam Al-Ankabut/69  ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…” Percayalah. 

    Kupersembahkan lagu ini teruntuk yang masih mencari. Saya juga masih kok. :)

     

  5. Deuh, ini gambar ngingetin saya aja sama gerutuan Tansen dalam cerpen Madre (Dee, 2011). 

    Sayang deh saya nggak lagi pegang novelnya. Tapi saya pegang banget gerutuannya Tansen— yang tanpa geledek tanpa banjir diamanahi untuk melanjutkan bisnis roti nenek moyangnya. 

    Kira-kira begini ia bilang: “Duh, padahal gue mau hidup bebas kayak di Bali dulu. Nggak dibebani sama pekerjaan tukang roti kayak gini.”

    Rekan barunya, Meilan, malah menimpali begini: “Sesungguhnya, ketika kamu menuntut kebebasan, sebenarnya kamu tidak bebas dari kehendak-ingin-kebebasan itu sendiri.”

    Kocak, ya? Pandangan kita tentang apa yang dinamakan kebebasan, kemerdekaan, dan kedaulatan, atau apa lah itu— malah kuasa sangat menguasai kita.

    Oh, mister kebebasan, kamu dimana? 

    Nah, saya baru nih belajar hakikat pembebasan dari Islam. Jika ditilik seuprit emang sih kayaknya “kebebasan” bukan kata yang berjodoh dengan ideologi yang satu ini. Eh tapi iya gitu?

    Jadi Tuan Nona, maka dari itu Inginlah beta ini berbagi. Tapi sedang tidak bebas dari hasrat penundaan tugas kenegaraan yang sungguh terlalu, euy.  Doain aja ye ini si Tristiul ini bisa ngonser kata lagi perihal kebebasan di tumblr-nya. 

     

     

     

     

    *Gambar dari sini.