February 2012
26 posts
keduniamayaan, maaf tak lagi (terlalu) sering...
Keduniamayaan, huh? Jengah kadang dibuatnya.
Pulang dari dunia nyata biangnya rutinitas, lalu kembali merebah dalam peraduan, ini dia kalanya sang dunia maya menggoda. Buka situs jejaring sosial. Ayaya.
Aktiviti celetak-celetuk tiada henti antre untuk dilayani. Beragam polah pola cakap minta diladeni. Yang sifatnya urgensi ialah si minoritas, sedang si mayoritas adalah obrolan ngalor-ngidul...
forum gosip ilmiah (sok iyey) bertemakan "ibadah".
Lagi-lagi ngangkringan menetaskan pemikiran seru.
Bersama dua rekan sepermainan, telah lama kami berkutat mengenai gosip-gosipan seru mengenai per-islam-an. Gelas demi gelas bergulir (aer putih doang haha).
Lantas forum gosip ilmiah (sok iyey) kami mengerucut pada tema “ibadah”. Saya, yang telah lama menimbun kejengahan, kemudian menggelontorkan pendapat.
“Ih, heran, deh....
forget paris, i'd rather be "ndeso" this time.
Pelesir o’ pelesir! Pelesir o’ jemaah (pelesir)!
Saya jemaah pelesir-iah, lah!
Kamu pun jemaah pelesir-iah, kah? Hem, destinasi apa yang menjadi tujuanmu, hee?
Paris? Yes, romantis. Yunani? Wa! Aristoteles dan Phytagoras! (pusing). Hollywood? Oh, kayu suci? Hehehe Hawaii? Hula hula.
Atau kamu kamu kamu— jangan-jangan sama seperti saya? Dimana destinasi impianmu adalah—...
au au au angen.
Aku aku akuu. Kangen kangen kangen.
Ngobrol sama kamu yang pakai baju, kamu yang hidungnya bolong dua, kamu yang kentut per hari tiada jemu, kamu yang hobinya inhale-exhale pakai O2, kamu, kamu, kamu, kamu, kamu~
Kamu yang di sana. Kamu yang di situ.
Kamu kamu kamu.
Tiada yang bisa menandingi kamu dan kamu dan kamu, heiii, teman yang girang lama bercakap.
Di mana orang lain malas bicara dan...
jejaka dan petuahnya.
tristi: “Mas mas, kalau Mas nunggu kepastian penting dari temen, tapi dia nganggep itu nggak penting— harus gimana ya?”
seorang rekanan berjenis kelamin jejaka: “Ya easy going aja kalau saya lah. Nggak usah terlalu dibawa perasaan, Teh”
seorang rekanan (yang alhamdulillah-nya juga) berjenis kelamin jejaka: “Ya, kalau itu memang penting, tinggal bilang aja itu...
tristia tersistemi 2012.
Saya rasa saya butuh tersistemi.
Iyes, saya tahu. Memang di luaran sana terdapat orang-orang berasumsi, “hell~o, bukan masalah sistem cuuy, tapi personalnya. Dia orangnya baleg atawa henteu (bener atau nggak).”
Tapi, tetep dah, saya butuh tersistemi inii. Haha, ngotot. Tikilikitiiik
Nah, ini merujuk pada pengalaman Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya di desa sih.
Dalam konteks KKN, saya...
so, tell me, are you a digger?
Dalam kamus perbendaharaan persepsi-nya saya— tidak ada tuh yang namanya “Wow, orang ini religius.”
Atau malah oposisinya “Wow, abal-abal banget tuh orang religinya.”
Bagi saya, yang ada hanyalah “orang yang mau (dan terus) belajar” dan “orang yang tidak mau belajar (lagi).”
Tragis, fakta yang saya temukan kini ialah segerombol manusia...
brentano, si tetangganya rudolfo, mengajarkan saya...
Ceritanya, ini kembali ke peradaban kosmopolit.
Saya, kemarin hari, nimbrung iseng (mendamparkan otak, lebih tepatnya) dalam suatu kajian filsafat di sebuah ruang di Masjid Salman ITB. Yeay. Kali ini bahasannya mengenai fenomenologi.
Sial. Telat datang saya. Benar-benar deh jadi lost in translation. Tahu-tahu di slide presentasi ada yang namanya Brentano.
Brentano? Saha eta teeeh. Naon eta nu...