awalnya tan malaka, kemudian kaboom— ada sang imam pemberontak.
Walaupun saya tahu banyak yang bilang Tan Malaka adalah seorang komunis (dan beberapa menyangkal)— saya salut dengan pencitraan akannya yang dilakukan oleh para penggemarnya.

Sehingga orang-orang awam yang tidak terlalu mau tahu sejarah— atau sering disebut ahistoris— perlahan mulai respek terhadap tokoh terkenal asal tanah minang ini.
Radikal yang menjual.
Hem yeah. Bagaimana yah jika ada beberapa penggemar lain yang memasang tokoh lain?
Saya berpikir tentang Kartosoewirjo.
Taruhlah para penggemar Kartosoewirjo berhasil merumuskan pencitraan yang sungguh ciamik akan pemimpin gerakan Negara Islam Indonesia ini.
Dan orang-orang awam yang tidak terlalu mau berpikir radikal (padahal perlu), kemudian terbawa dengan pencitraan tersebut.
Dan tiba-tiba kaos bergambarkan Imam Pemberontak asal Malangbong tersebut laku keras di pasaran. Seperti layaknya kaos Che Guavara, kaos tersebut bisa saja nangkring di badan bagian atas anak SMA kelas 1 terlabil sedunia.
Agak ngeri ya membayangkannya.
Yang jelas, semoga kita mengagumi seorang tokoh bukan hanya karena pencitraan.
Tapi karena ia memperjuangkan sesuatu yang “worth struggling for” di sepanjang hidupnya.
Dan, oh iya, semoga pemikiran kita cukup radikal untuk tahu— apa sih yang “worth struggling for”?
*image taken from this


