RSS | Archive | Random | E-mail | AskMe

eow!

i used to be the avatar from earth kingdom, quidditch captain of ravenclaw dormitory, united states of eurasia's empress, major of bikini bottom for two periods, proud ambassador of jumbo-mumbo jupiter, pirate king sailing with quirky-yellow submarine. ;)


Tristia Riskawati's Facebook Profile


but everything goes nothing if i don't suffer like people's here:
Al-Baqarah: 214

Rawr! :O

pssst! i am their stalker

surf 'em!

Ayat Quran
Masjid Salman ITB
Indonesian Youth Conference
glory glory MANUTD
Positivity Blog
LITERATUR3
FWJ Karisma
National Geographic
We Love Hijab
Tobucil
Rukukineruku

bloggiewalkie

Farah Fitriani
Febrina Maharani
Tita Adelia
Prabaning Tyas
Putri Ariin Wulandari
Diryati Widyantari
Arumsari Widhi Astuti
Marsha Faradina
Rino Ferdian
Nur Roni Dinurohman
Damar Iradat
Annisa Oktaviana
Muhammad Ramadhan Yoan
Muhammad Aprianto Ramadhan
Maulidina Kurniawati
Egalita Irfan
Palomina Caesaria
Prima Rusdi
Valiant Buddy
Ghesi Wuri Aryani
Agung Muhammad Rivaldi
Donny Argadinata

chittychattypeople!

Shoutbox by SBox
16 October 11

awalnya tan malaka, kemudian kaboom— ada sang imam pemberontak.

Walaupun saya tahu banyak yang bilang Tan Malaka adalah seorang komunis (dan beberapa menyangkal)— saya salut dengan pencitraan akannya yang dilakukan oleh para penggemarnya.

Sehingga orang-orang awam yang tidak terlalu mau tahu sejarah— atau sering disebut ahistoris— perlahan mulai respek terhadap tokoh terkenal asal tanah minang ini.

Radikal yang menjual.

Hem yeah. Bagaimana yah jika ada beberapa penggemar lain yang memasang tokoh lain?

Saya berpikir tentang Kartosoewirjo.
Taruhlah para penggemar Kartosoewirjo berhasil merumuskan pencitraan yang sungguh ciamik akan pemimpin gerakan Negara Islam Indonesia ini.

Dan orang-orang awam yang tidak terlalu mau berpikir radikal (padahal perlu), kemudian terbawa dengan pencitraan tersebut.

Dan tiba-tiba kaos bergambarkan Imam Pemberontak asal Malangbong tersebut laku keras di pasaran. Seperti layaknya kaos Che Guavara, kaos tersebut bisa saja nangkring di badan bagian atas anak SMA kelas 1 terlabil sedunia.

Agak ngeri ya membayangkannya.

Yang jelas, semoga kita mengagumi seorang tokoh bukan hanya karena pencitraan.
Tapi karena ia memperjuangkan sesuatu yang worth struggling for” di sepanjang hidupnya.

Dan, oh iya, semoga pemikiran kita cukup radikal untuk tahu— apa sih yang “worth struggling for”?



*image taken from this

blog comments powered by Disqus
Themed by Hunson. Originally by Josh