for the rest of my life.
Mas. Mba. Miaw.
Bukan Maher Zein yang saya akan preteli di sini. Mentang-mentang judul tulisan ini yaitu dan adalah (yaitu dan adalah?) judul salah satu penyanyi islami yang satu ini.
Maaf.
Bukan juga tentang jodoh. Mentang-mentang si judul tulisan di atas itu lagu prikitiw-prikitiwan a la suami istri.
Haha. Maaf juga.
Jadi begini handai taulan yang saya gemari keberadaannya di jagad raya (sapaan yang panjaang)— saya hanya menemukan formulasi yang sekiranya membuat beban hidup saya jadi yah— tereduksi. Tinggal tunggu koper saja untuk tereliminasi #neon.
Ahay. Ngomong-ngomong tentang koper, apa yang kamu pertama kali pikirkan tentangnya? Mikir koper jadinya laper? Terus makan lemper? Apa waper? Zzzz.
Kalau saya berpikir jika ada koper maka ada liburan! Wawawawaw.
Dan saya pikir, tiap hari dalam hidup saya adalah liburan tiada henti-hentinya. For the rest of my life, all my lifetime-days are holidays. xD







Gimana cara, mungkin Mba/Mas bertanya.
Jadi, saya membayangkan, saya adalah turis selamanya dari sebuah negara tropis hangat bernama Indonesia. Saya tinggal di sebuah resort gratis di Jalan Sukawarna Baru F33.
Kemudian saya mengambil studi jurnalistik— sebuah bidang yang saya kecengi dari ketika saya masih pacaran sama Bob Foster dan Marten Kanginan- demi merekreasikan otak memble saya. Doi butuh asupan nutrisi intelektualitas! Haha heup ah gahar.
Oleh karenanya, saya harus menempuh sekitar empat puluh lima sampai sembilan puluh menit perjalanan menyenangkan a la turis— dari resort saya ke Jatinangor. Jatinangor adalah kecamatan di mana Universitas Padjadjaran tempat saya “makan-makan” berdiri.
Biasanya saya naik elf, yes I am an “Elvish”! Atau naik bus (Does it means I am a Busish? Haha. Whatevs :p). Sembari duduk (atau berdiri), pun telinga saya dikepret lagu-lagu berhawa liburan tropis kayak The Horizon Has Been Defeated-nya Jack Johnson, Welcome Home-nya Radical Face, atau Pulang dari Float. Walhasil, kian terasa loh nuansa liburan-tiap-hari di jiwa ini.
Di kampus, saya bersua lalu bersapa lalu berbaur-bauran dengan sebaya-sebaya saya. I love meeting people, old and new one. And talking. And sharing thoughts. And loving (properly). Salah satu bentuk aktivitas liburan juga loh meeting people terus saling sharing, bagi saya.
Kadang saya dapat tugas meliput dan ini memang hobi saya. Saya akan observasi-observasi segala macam— lalu wawancara— kenal orang baru— dapat ilmu baru—m mem-fitness-kan otak dengan menulis hasil liputan— lalala. Wow. Proses yang indah. Setara dengan naik banana boat di pantai manasajaboleh.
Kadang saya yang cungkring nangkring-nangkring di sebuah masjid kampus teknologi ternama di Indonesia, Salman ITB. Gosip-gosipan berhawa dialektika, ngasuh balita-balita lucu mampus, diskusi buku, disapa rutin mang cuankie langganan, dapat petuah-petuah bijak—ah— semua saya alami disini.
Lalu sisa malam yang saya miliki kadangkala dihabiskan dengan senda gurau bersama mas-mas di Angkringan. Sembari berkopijahe.
Pulang-pulangnya bobo di peristirahatan pulau kapuk ternyaman deh.
Kembali di Sukawarna Baru F33.
Fin.
Jadi, Mba Mas.
Begitulah cara saya dalam bikin hidup saya seru.
Intinya tinggal pencet remot buat ganti saluran pemaknaan.
Dari rutinitas yang suck ke liburan tiap hari tanpa skip. Dari “pikiran sempit yang selalu berprasangka buruk” ke “pikiran yang bisa melihat keindahan dalam setiap kepenatan.”


