mengadili persepsi.

Sering kali ye, mendengar celetukan seperti ini:
“Apaan sih kamu nuduh-nuduh saya begini. Nuduh saya begitu. Yang berhak nuduh saya tuh Tuhan, bukan kamu.”
Yappiyo.
Iya banget.
Memang cuma Tuhan yang berhak nuduh kita-kita ini kiri apa kanan. Hitam atau putih. Salah atau nggak. Jelek atau ganteng (haha, ini nggak lah ya). Zooey Deschanel atau Tina Talisa (???).
Dan terdapat pula segelintir manusia yang (mungkin) bermaksud baik mengingatkan kita dengan memberi tahu kalau kita itu salah.
“Salah/benar” bagi mereka adakalanya bersumber dari persepsi mereka mengenai kebenaran. Nah, persepsi tentang kebenaran ini kan beda-beda. Tuingtuing.
Misal, saya ini ingin makan Ice Cream McFlurry.
Terus ada orang yang nyegat saya, dan bilang kalau makan es krim merupakan dosa terbesar menurutnya. Karena akan membuat lemak di badanmu bertambah, (haha rasakan kau!)
Tapi ada yang lain, bilang, “Kamu perlu makan Ice Cream Mc Flurry Tris. Kamu butuh refreshing setelah menjalani rutinitas hari yang kian padat.”
Haha.
Tuh kan, kebenarannya subjektif sekali. Tidak ada pakem yang jelas. Tidak ada di kitab mengenai larangan makan Ice Cream Mc Flurry juga sih.
Masalahnya, ketika saya misal goyang koplo secara vulgar di Braga Dangdut—-emmm, ahaha terlalu ekstrem! Misal, saya twitteran nih, sampai lupa sholat, sampai nge-flirtingin suami orang (ekstrem juga sih).
Lantas saja *tuing* muncul seorang saudara/saudari mengingatkan saya.
“Tristi, nyadar nggak sih kalau kamu telah memasukkan dua hati dalam satu rongga? Padahal dalam satu rongga, hanya ada satu hati yang boleh masuk. Allah. Bukan dijejalin sama twitter atau nafsu birahi ke suami orang. Al-Ahzab ayat 4, Tris. Masa nggak inget?”
Lalu saya bilang,
“Weeee. Siapa elu, emang Tuhan gue? Biar Tuhan yang ngadilin gue. Bukan urusan elu. Tuhan yang berhak mengadili gue bener apa kaga.”
Nah, pertanyaannya:
1. Dari mana saya tahu versi benar atau salah dari Tuhan? Sehingga sampai songong bilang ke saudara/i saya “biar Tuhan yang ngadilin gue”? Apakah saya seorang Nabi yang bisa berbicara langsung denganNya?
2. Buat apa Tuhan menciptakan Kitab, kalau kita terus bergumul dengan versi “benar dan salahnya Tuhan” yang sebenarnya diciptakan oleh logika kita sendiri— bukan berdasar pada hukumNya?
3. Di agama saya, Islam, ada ayat
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran…”.(Al-Asr: 3)
Butuh saling mengingatkan untuk mengamalkan ajaranNya kan?
Jadi, ngapain si Tristi ini mesti ngedumel sendiri ketika ada yang mengingatkan dia mengenai Al-Ahzab ayat 4 ini? Sudah tahu dasarnya jelas. Kitab. Bukan logika manusia yang ragam-ragam maunya. :)
Just a thought.
Memilih jalan hidup Bushido a la Samurai, atau jalan hidup biksu Tong Sam Cong, toh, masing-masing ada konsekuensinya :)
*image taken from this


