kepemimpinan dari lantai belasan? tidak ‘cuh’ juga.
Dari Kemah Menjadi Indonesia 2011-nya Tempo Institute, Leadership Session (29/11/2011) dari General Electric merupakan bagian kesenengannya saya.
Tak dinyana, padahal ini sangat TTB (tidak tristi banget!) karena:
1. Pembicara berkemeja a la CEO (hey, where’s some men with t-shirt or flanel shirt and jeans with mountain boots to crush on? )
2. Tempat di kantor. (Mengapaaa oh mengapaaah sesi pelatihan kepemimpinan diadakan di kantor lantai belasan, bukan di alam terbuka ala tentara-tentaraan gitu?)
Semula saya bergumam, “COME ON. This day must be a very long booooooring journey. Booo. No hard feelings, but I am not that kind of yuppies-wannabe that will end my carrier in any high floor building!”
Hm. Nyatanya tidak! Ini umum, saudara-saudari. Bahkan kamu si manusia petualang akut pun bisa menerap intisari dari sesi ini. Mungkin materi kepemimpinan adalah materi usang yang penuh dengan per-basa-basi-an klise. A B C. Ba bi bu.
Ya, klise lah hei. Tapi ini klise semacam “Oke kalau kamu nggak makan, maka kamu bakalan koit.” Ya iya lah. Klise-nya itu macam klise yang memang hampir wahid keakuratannya juga kan?
Ini jenis klise yang bikin kita bilang ke diri sendiri, “Oh, iya juga nih harusnya seperti ini! Sepele. Tapi ini penting dan kita kerap melupakannya.”
Here’s some “i-say-it-classico-rules” photos.





Foto tambahan:

Saya belajar arti frasa “LUAR BIASA dalam KETERBATASAN” darinya. Bener-bener deh.
Pria di atas adalah Handry Satriago, CEO General Electric Indonesia yang telah lama lumpuh. Salah satu pembicara nih dia. Keren. Pakai kursi roda tapi semangatnya itu loh kayak orang yang bisa lari ngibrit 5 menit dari Monas ke Ragunan.
Kalau sempat (dan akan diusahakan), ingin membuat tulisan tersendiri mengenai beliau, nih.
Selalu suka tema keluarbiasaan yang tercipta dari keterbatasan, sih.
Soalnya TB (tristi banget).
Rawr.


