21 tahun dalam memaknai papa.

Gambar yang tercantum dalam 9gag.com hari ini memang kaleidoskop seorang ayah dari sudut pandang pria. Tapi~ entah mengapa, kok saya sekali. Setidaknya sampai yang umur 21 tahun. Saya belum 60 tahun ya tolong. :p
Saya dibesarkan dalam keluarga yang baik-baik saja. Tidak ada badai kemelut kerumahtanggaan orang tua saya yang pantas dijadikan alur cerita sinetron stripping. Namun, entah mengapa, saya kok merasa jika saya~~~ berpikir kalau masalah utama kini adalah ketidakharmonisan saya dengan keluarga.
Beberapa waktu yang lalu ayah saya datang dari Kuwait. Membawa banyak barang oleh-oleh. Saya bengong dan biasa saja. Betapa berbedanya saya dengan dua-lima tahun sebelumnya. Ketika masih ABG dulu saya begitu senang melihat ada sepatu baru walau bekas dari Kuwait. Atau dompet vintage. Atau lain sebagainya.
Kini saya biasa saja.
Entah mengapa, merasa tidak pantas saja menerima seperti itu.
Ayah saya, saya tahu kalau dia sayang sama saya. Dia selalu menawarkan antar jemput~ dia bilang bisnis TERI (nganter anak dan isteri)~ pada saya ketika berkuliah. Bayangkan, dari Bandung ke Jatinangor.
Ketika saya kesulitan, saya selalu ditawarkan pertolongan secara intens.Terus terang, bukannya senang lalu menerima. Tapi hati ini enggan. Sulitnya untuk menerima. Bagi saya, ini terlalu berlebihan. Saya sering berkata, “Nggak usah, Pap.” ketika ayah ngasih duit lagi padahal isi dompet saya masih layak.
Karena perhatian yang berlebihan itu, saya berpikir, “kok seorang ayah jadi terlalu menyesakkan bagi anaknya sendiri”.
Ini bukan saya risih sama beliau. Ini karena saya risih sama diri saya sendiri. Saya merasa belum jadi apa-apa. Ibadah ritual saya lebih kacau dari kedua orangtua saya. Saya masih suka menangis sesenggukan ketika tidur saya terlalu lama. Saya masih pemalas. Padahal~ mungkin~ saya tahu keIslaman lebih intens dari mereka, saya aktivis di Masjid Salman ITB.
Apa saya laik dimanjakan seperti itu?
Saya risih dengan perhatian Papa terhadap anak perempuannya yang masih labil, ini bagai membuat saya makin manja. Saya tidak mau dilayani, tapi diberi tahu cara agar saya tidak labil lagi. Dan setelah tahu cara itu, saya dituntut untuk menjalankannya secara mandiri.
Astaghfirullah.
Kuatkan saya, ya Rabb.
Ini posting emosional banget.
Dikerjakan ketika menunggu mengunggah video tugas ficer televisi ke youtube.com.
Tambah aja. Hehe. Huhu. Huaaa.


