that “N” itchy word.
Salman.
Yay.
Masjid ini masjidnya barudak (bukan ‘budak-budak’ heii ya) cerdas ITB yang sering jadi ’selingkuhan’ saya— penyeling ritme padat perkuliahan jurnalistik.
Namun, oh, namun. Acapkali, segelintir dari barudak cerdas ini galau berjemaah gitu sama that-N-itchy-word.
Spell it: to the N to the I to the K to the A…… daan silakan saudara teruskan secara otomatis— maka akan membentuk kesatuan kata yaituu——-
Singkat kata, kata ini benar-benar deh— biangnya bibit-bibit kegalauan.
Hey. Kenapa harus galau sih beginian aja?
Pun kenapalah harus disumbang-sumbangkan kegalauan mengenai si N tersebut? Bikin jiwa jadi sumbang loh.
Kita masih muda.
Kalau masih belum siap untuk “itu”— mengapa terlampau larut dihidupi dalam diri?
Berkaryalah!
Sesungguhnya semesta— dan kebenaran yang tercantum di dalamnya— jauh lebih mengeyangkan sebagai nutrisi jiwa dibanding pekikan hormon-hormon gelora khas perkelaminan yang tiada jelas itu.

“The distinctive enjoyment of being single is equal with the distinctive enjoyment of being somebody’s husband/wifey.
I believe every relationship status has some advantages and consequences to take. That’s why I love and feel gratitude for being single. So live to the fullest with your-whatever “relationship status” since the very now.” :)


