lelaki tampan.

Aku yang dahulu tak berpunya, bertangan kosong, berisi-saku hanya debu pikir usang—dimampiri keterjatuhcintaan.
Mendempul ujung ubun hingga kuku kaki. Didarahi oleh aroma. Ah, tentulah saudara saudari sekalian yakinilah benar. Aku berjodoh.
Kutambatkan hati yang ingin sepertinya meretas girang, menjilid sayang.
Tiada sekedar pengabadian rasa, namun pengejewantahan cinta.
Aku kadang berbisik beberapa ketika dalam sayup-sayup mesra. Tidak sering. Namun memulas celup warna alur hidup yang kuingin barang seabad kiranya.
Namun, apa lacur, ketahuilah aku adalah player.
Aku hidup dari berbagai tantangan yang disodorkan padaku.
Jatuh cinta mungkin bukan kata yang tepat— ketika “laki-laki” lain lalu lalang dalam hidupku. Ingin membuktikan, ”who’s the greatest love of all?”.
Pertama, aku kenal Kierkegaard.
Ia mirip dengan cintaku setidaknya. Mengatakan bahwa manusia adalah martir pengabdi pada Tuhan.
Kedua, mungkin handai taulan sekalian mengenal Nietzsche.
Aku tahu ia tidak setuju dengan positivisme. “Tidak ada yang objektif dan matilah kau Tuhan!” ujarnya barangkali seperti itu. Bagiku memang~ kenihilan objektivis adalah hal yang masuk akal.
Ketiga, aku kenal Freud.
Dengan segala fase-fase perkembangan yang ia paparkan secara seksuil. Bahwasannya semua dorongan alam bawah sadar manusia dilandaskan dari, emmm, seks?
Dan masih banyak lagi jejer-jejer “lelaki tampan” lainnya yang sempat kubertamu.
Tapi, ini beda.
Kamu tahu, ini seperti ketika anak kecil bosan dengan keluarganya. Lalu minggat dari rumah, mencari papa-mama yang bisa membelikannya boneka Barbie di seantero kota. Atau Blackberry Dakota.
Kemudian ia kembali.
Tak bisa pungkir dari fakta— ayah ibu senyata-nyata miliknya adalah ayah ibu yang mungkin “hanya” bisa membelikannya papan catur— dan handphone monokrom yang tak memiliki ringtone lagu-lagu girlband Cherrybelle.

Ayah Ibu yang merencana, melahirkan, kemudian meramu.


