RSS | Archive | Random | E-mail | AskMe

eow!

i used to be the avatar from earth kingdom, quidditch captain of ravenclaw dormitory, united states of eurasia's empress, major of bikini bottom for two periods, proud ambassador of jumbo-mumbo jupiter, pirate king sailing with quirky-yellow submarine. ;)


Tristia Riskawati's Facebook Profile


but everything goes nothing if i don't suffer like people's here:
Al-Baqarah: 214

Rawr! :O

pssst! i am their stalker

surf 'em!

Ayat Quran
Masjid Salman ITB
Indonesian Youth Conference
glory glory MANUTD
Positivity Blog
LITERATUR3
FWJ Karisma
National Geographic
We Love Hijab
Tobucil
Rukukineruku

bloggiewalkie

Farah Fitriani
Febrina Maharani
Tita Adelia
Prabaning Tyas
Putri Ariin Wulandari
Diryati Widyantari
Arumsari Widhi Astuti
Marsha Faradina
Rino Ferdian
Nur Roni Dinurohman
Damar Iradat
Annisa Oktaviana
Muhammad Ramadhan Yoan
Muhammad Aprianto Ramadhan
Maulidina Kurniawati
Egalita Irfan
Palomina Caesaria
Prima Rusdi
Valiant Buddy
Ghesi Wuri Aryani
Agung Muhammad Rivaldi
Donny Argadinata

chittychattypeople!

Shoutbox by SBox
30 December 11

(it’s not that easy to) walk my talk.

                        

Jadi, wahai Tuan dan Nona, ketika saban hari mengantar saudara ke Jakarta— di mobil— berusahalah saya (dengan amat sangat semangat hardcore) baca buku-buku ini itu. Yah—ketimbang tidur atau iseng-iseng twitteran atau fesbukan lah hee.

Katain aja deh saya ini si sok-sok (berusaha) intelektualis.

Hehe.

Soalnya ya begini, ya saudaraku, yaa habibi. Seuprit temen-temen pernah saya jadikan target gerutuan akan keluhan saya yang kiranya seperti ini bunyinya,

“Euh, liat deh anak-anak sekarang kalau lagi nggak ada kerjaan ngapain? Di bus DAMRI, pada twitteran gitu, ber-social-networking-ria. Mereka nggak ada waktu untuk memperkaya diri sendiri apa dengan baca buku? Minat baca anak muda Indonesia sekarang rendah deh kayaknya..”

“Iya, Tris.” Jawab satu.

“Udah latah banget ya, Tris.” Jawab yang lain.

HUAHAHA pada setuju. 

Hem.
Mengapa sih sebegitu pentingnya minat baca (bagi saya)?

Jadi. Alkisah, saya pernah nimbrungin beberapa kuliah umum (sebagai tukang bantu-bantu) dan menemukan kalau buku tuh menawarkan pandangan menyeluruh dari suatu topik.

Beda kayak artikel-artikel di internet, atau kicauan-kicauan di twitter. Fakta-fakta yang tersaji sekarang tuh seakan parsial dan tidak menyeluruh. Kalau bahasa post-mo-nya, kita hidup dalam generasi yang banal. Banal dan guling. Haha. Crap. Maksudnya banal itu adalah “dangkal”.

Berpatok pada pembacaan amatirnya saya, manusia zaman sekarang tuh ditawarkan informasi yang serba instan dan ringkas— tanpa mempedulikan kedalaman informasi tersebut— dan apa dasarnya informasi tersebut tercipta. 

Siapa tahu informasi mengenai perpolitikan yang kita konsumsi di tivi-tivi itu merupakan rekayasa. Dan kita nerima-nerima aja, atau nyuek-nyuekin aja— tanpa tahu generasi kita mau dibawa kemana.

Huaduh.
Pusing ye jadinya.

Males juga jadi tukang mikir.
Tapi ya harus— nggak mau juga dibodo-bodoin. :p 

Dengan saya mengeluh seperti itu, saya nggak merasa lebih” huwow” atau gimana. Karena “anak-anak sekarang” yang saya maksud, ya termasuk ada “saya” di dalamnya.

Ya oke lah. Mungkin saya ini bukan anak gaul twitter dan memang jarang berkicauria syalala di dalamnya.

Tapi tetep, keinginan buat baca-baca gitu terus terang— MENURUN. Banget. “Terlalu lelah dengan dunia kemudian tertidurlah” adalah ritual penghabisan hari-hari saya kini. Dem.

It’s not that easy to walk my talk.

Tapiii~ namanya juga usaha~
Kalau atas nama Allah mah dinilai loh, dan insya Allah dikasih jalan. Aamiin.

  1. hpusfak reblogged this from kalengikansarden
  2. kalengikansarden posted this
blog comments powered by Disqus
Themed by Hunson. Originally by Josh