SD pergetekan, another kknm story.
I do LOVE KIDS.
Muchos.
Mangkanye, ialah pelipur penat bagi saya ketika teman-teman seper-KKN-an Desa Jayamekar, Cibugel, Sumedang— memutuskan untuk seru-seruan mengajar anak SD. Kami menjadi guru gadungan tapi gaulgila di SD Cidomas.

It’s such a yeaaaa~ey. Kapan lagi dah saya bisa menarikan nyanyi-nyanyian konyol unyumunyu selama sebulan suntuk di tempat KKN?
Haripertama—saya kebagian mengajar IPA. Hasrat menggila pun tersalurkan secara lancar-sulancar.
Saya joged-joged dikit, kemudian mengajarkan mereka “tepuk semangat gaya eneg” yang diculik dari stok tepuk-tepuknya Pembinaan Anak-Anak Salman ITB. Alhamdulillah— walhasil mereka pun turut girang.
Hari demi hari berlanjut. Teman-teman mungil saya Alhamdulillah-nya memang selalu semangat ketika saya berujar sesuatu—baik dalam konteks belajar mengajar maupun main-main lucu.
Namun rasa-rasanya saya kok menemukan satu-dua hal yang agak kurang “sreg” ya?
Pertama, ini ketika saya iseng bertanya pada para bocah penghuni kelas 5 SD—kalau tidak salah.
“Kalian kalau udah gede mau pada jadi apa sih?”
Barisan cewek-cewek “it-girl” (soalnya gaya mereka paling mentereng— bandana a la cherrybelle tak pernah absen singgah di atas kepala) hampir kompakan menjawab “Jadi dokteeerr.”
Sedang untuk para cowok-cowok—jawabannya lebih bikin perut geli: “Jadi pemain sepakbola kaaaaak.”
Senang saja sih saya pribadi mendengar mimpi-mimpi luhur itu meluncur dari bibir mereka. Lagipula, ini termasuk itikad menunaikan pepatah “gantungkan cita-citamu setinggi langit” juga kan?
Nah, ini dia. Giliran saya tanya kepada mereka—siapa yang mau jadi petani—semua pada bungkam. Paling banter, mengikik pelan. Tidak ada satu pun yang mengacung. Waduh bagaimana ini.
Please, bahwa mereka ini tinggal di tanah yang oke banget buat pertaniaaan. Tapi eh tetapi, tiada satu pun yang mendambakan pekerjaan sebagai petani. Miris deh.
Menanggapi jawaban tersebut, sontak saya berujar heboh, “Ehhhh, padahal jadi petani itu keren looooh. Petani itu mulia, ngasih makan orang. Jadi petani juga bisa kaya asal sungguh-sungguh!”. Mereka Alhamdulillah-nya sempat mengiyakan. Fiuh.
Semoga ucapan saya itu sedikit menggeser persepsi kalau jadi petani itu kampung atau “bukan cita-cita hip masa kini”.
Hem. Gimana caranya ya supaya bikin pekerjaan petani itu layaknya kerjaan seorang ROCKSTAR?
Kedua, ini dia yang sangat super-getek. Iuh. Bahkan, anak kelas 5 SD ini pun telah melewati saya soal romantika cinta. Saya, yang belum pernah pacaran, dikerubungi oleh sekitar lima atau enam anak kelas 5 SD yang sudah PUNYA MANTAN.
Kala itu saya iseng ingin gosip-gosipan. Makanya, saya timbrungin tuh gerombolan “it-girl” kelas 5 . Diberondongi lah saya dengan kisah-kisah percintaan mereka. Ugh.
Oke. Let say, saya bukan orang yang pro pacaran di umur berapa pun. Tapi kini masalahnya bukan itu. Lah ya mereka ini masih mini-mini—tapi kok yang di otak mereka kalau nggak mantan, ya pacaran, ya sinetron, ya boyband.
Seolah belajar merupakan tuntutan bukan oksigen. Oksigen yang bikin mereka merasa senantiasa feels so alive. Seolah nggak punya keinginan untuk membuat inovasi apa gitu.
Sebenarnya, deep down saya tidak bisa lantas memvonis bocah-bocah ungu ini bersalah juga. Ya memang tiap hari mereka disuapinnya sama balada romansa di tipi-tipi. Ya karena pendidikan kita nuntutnya asal nilai bagus juga siih.
Ya ini kayak:selamat, Anda telah terprogram, paranoid android.
Well, butuh kekuatan super bagi seseorang buat minggat dari pusaran sistem bujubulek ini. Dan siap-sediakan kekuatan superdupermuper bagi kamu-kamu yang ingin menyelamatkan mereka para bulan-bulanan sang sistem.
Kini saya pun lagi menunjuki diri.
Sudah cukupkah stok kekuatan superdupermuper punyaan saya?


