brentano, si tetangganya rudolfo, mengajarkan saya berempati.
Ceritanya, ini kembali ke peradaban kosmopolit.
Saya, kemarin hari, nimbrung iseng (mendamparkan otak, lebih tepatnya) dalam suatu kajian filsafat di sebuah ruang di Masjid Salman ITB. Yeay. Kali ini bahasannya mengenai fenomenologi.
Sial. Telat datang saya. Benar-benar deh jadi lost in translation. Tahu-tahu di slide presentasi ada yang namanya Brentano.
Brentano? Saha eta teeeh. Naon eta nu dijentrekeunana?
Saya hanya bisa menggumam berbahasa sunda (soalnya si pematerinya nyunda jadi weh ikut nyunda). Catat-catat dikit juga lah apa yang dijelaskan. Siapa tahu sampai rumah tiba-tiba jadi terang.
Mujur. Di akhir sesi materi, ada ibu-ibu nanya begini:
“Apa manfaat praktis dari pemikiran yang ditawarkan Brentano?”
WAH IBU INI MEMBANTU SEKALI. Dan jawaban si pemateri pun bagi saya benar-benar sesuatu.
“Jadi begini, kalau Anda mengajar anak-anak, misal anak TK.. Anda tidak bisa memaksakan agar mereka berpikir memakai kerangka berpikir Anda.
“Anak kecil bukanlah miniatur dari orang dewasa. Mereka memiliki realita tersendiri. Berpikirlah memakai kerangka anak kecil untuk memahami, kemudian memberikan pengetahuan bagi mereka.
“Hal ini tidak hanya berlaku ketika Anda berhubungan dengan anak kecil saja. Tetapi dengan individu-individu lainnya.”
Pas banget dikepret sama jawaban si pemateri tadi. Setelah mengendap di desa, kemudian bertemu enambelas rekan mahasiswa yang memiliki kerangka pemikiran yang jauh berbeda, hal ini membekas banget.

Kadang diri ini harus rela ya menyelami sedalam-dalamnya berbagai perspektif. Setelah bisa paham, lalu obati, jika perlu.
Ini empati kali ya nama praktisnya?
Terimakasih ibu-ibu yang nanya, terimakasih pemateri yang nyunda pisan, terimakasih Brentano (tetangganya Rudolfo, hehe).
*tulisan ini dibuat sembari saya berusaha memahami betul tentang Brentano di situs ini. Suruh buat liputan kajian sama Bos Besar, Cuy!


