tristia tersistemi 2012.
Saya rasa saya butuh tersistemi.
Iyes, saya tahu. Memang di luaran sana terdapat orang-orang berasumsi, “hell~o, bukan masalah sistem cuuy, tapi personalnya. Dia orangnya baleg atawa henteu (bener atau nggak).”
Tapi, tetep dah, saya butuh tersistemi inii.
Haha, ngotot.
Tikilikitiiik
Nah, ini merujuk pada pengalaman Kuliah Kerja Nyata (KKN) saya di desa sih.
Dalam konteks KKN, saya “diatur”.
Diatur oleh pihak Unpad untuk berpartisipasi dalam program atau kegiatan masyarakat setempat. Saya bersama rekanan KKN kemudian menyusun jadwal dan persebaran— siapa melakukan apa, dimana, dan kapan.
Gampangnya, ini yang dinamakan dengan sistem bukan?
Ada sebundel pengaturan dan petunjuk teknis— untuk saya dan teman ketika berkegiatan di desa.
Jujur, ketika KKN, hidup saya rasanya apik tenaan.
Bangun selalu nyubuh, jam setengah 5 teng. Mandi selalu pagi. Habis itu (tumben-tumbenaan) mencuci baju sendiri. Lalu mengeringkan dan menjemur. Ditambah lagi menyetrika. Buat bubur gandum. Selepas itu mencuci piring. Capcus deh berangkat untuk berkegiatan.
Itu karena saya punya jadwal per harinya.
Saya punya patokan.
Beda ceritanya ketika saya di rumah.
Yang ada hanya bisa memble per liburan. Padahal diri ini pengeeeen banget bisa melakukan hal yang produktif secara maksimal.
Semisal, bikin artikel— atau menyelesaikan liputan kajian secara taktis, sangkil, dan mangkus (hahaha sangkil dan mangkus, efektif dan efisien kali yaa). Atau belajar masak.
Then suddenly this sight goes pop on my brain. *tingtingting
Kenapa di rumah saya memble? Why o why? Simpel. Karena saya tidak membikin jadwal, tidak membikin pengaturan.
Yep.
Saya belum membikin sistem atas diri sendiri. Kalau saya mau produktif, seharusnya saya bikin sistem produktivisme diri juga dong ye.
That’s (i think) the closest answer.
Makanya, sekarang saya coba buat jadwal dan pengaturan atas diri saya sendiri sekarang.
Seperti ini:

Yah, masih amatir gini nih.
Bukan orang terstruktur disuruh bikin sistem ya masih gini. Hehehe
Dan, hem, seoke-oke orang, kalau nggak ada di sistem yang punya tujuan yang apik tenaan— dimuliakan Tuhan— tetep aja memble nggak sih?


