grauk




TRISTIA RISKAWATI.

Ciri fisik: Berhidung bolong | Prestasi: Runner-Up Lomba Masukin Pensil ke Botol se RT | Cita-cita : Juragan makanan bergenre kuah-hangat-nikmat bernama Cuankie | Jenis Kelamin : Mba-mba | Profesi : Hamba.


twitter | goodreads
Ask me anything

bahtera.

Ada masanya ketika saya begitu emosional membicarakan— WOAHHHHHHHM— (berdehem panjang dan khikmat) pernikahan.

Begitu alay. Menggebu parah. Beneran deh. Maklum. Saat itu radar gelombang aktivitas taksir-menaksir benar-benar tengah mentsunamikan hidup saya.

Namun, ada suatu titik dimana saya mikir,

"Tris, sumpeh. Lo nggak akan mengaktualisasikan diri jadi pribadi muslimah yang keren kalau lo terkungkung sama pertanyaan atau pemikiran ‘Nikah kapan? Ama siapa?’ Get out, get a life! Cik atuh geura ibadah nu leres heula.” 

Jadi saya bertekad untuk heup. Berhenti.

Proses keberhentian dari galau memikirkan nikah ini pun terbantu dari literatur-literatur ilmiah yang bilang “Reaksi alay ketika jatuh cinta itu sebenarnya reaksi kimiawi loh, guys.” Pantesan Efek Rumah Kaca bilang kalau “Jatuh Cinta itu Biasa Saja.” 

Ditambah lagi, ketika saya dengar cerita-cerita tentang pernikahan.

Misal nih, orang yang kamu jatuhcintai setengah mati sebelum menikah— ketika sudah sekian lama hidup bareng eh ketahuan juga buruk-buruknya. Oh pasti itu. 

Rekan saya pernah bilang begini, “Ketika kamu sedang menggila-gilai seseorang, mungkin saja Allah masih menyembunyikan aibnya kepadamu. Padahal kan tiap manusia punya aib (kecil/besar).”

Banget!

Pemikiran-pemikiran ini menggiring saya jadi amat rasional memandang pernikahan. Bahwa pernikahan tidak sekadar syalala penuh cintahh tapi juga bisa durudum muram.

Salah satunya adalah perihal mencocokkan dua pribadi yang berbeda dalam sebuah bahtera berjuluk pernikahan (WOAHM).

***

"Gimana sih proses mencocokkan diri sama pasangan nikah?"

Pertanyaan ini tidak pernah dipupuk dalam otak saya, tapi tiba-tiba terbersit muncul ketika Teh Elma, suaminya Kang Firman dan Ibu dari Elanfitri Rahima Maharani (yang picubiteun pisan) duduk di depan saya. 

Teh Elma bilang begini kira-kira. 

"Tujuan kita dengan  pasangan harus sama, Tris. Kita harus punya persepsi yang sama dengan pasangan kita mengenai mau kemana bahtera kita diarahkan."

Juga, kata Teh Elma, kita harus punya kesediaan untuk “memperbaiki” pasangan kita terlebih dahulu, jikalau si pasangan belum siap “berlayar”. “Perbaikan” ini dilakukan agar masing-masing awak kapal siap sedia menuju tujuan dengan si bahtera tersebut.

Teh Elma juga mengakui— kalau dirinyalah yang menjadi objek yang “diperbaiki” suaminya. :)

Jadi nggak ada tuh yang namanya, “Oh, lu ternyata jelek dan tidak siap berlayar dengan gue, ya udah gue tinggalin.”

Dan pun, nggak ada tuh yang namanya, “Aku nerima kamu apa adanya, say.” 

Bersedia untuk berkorban dalam sebuah bahtera rumah tangga, bukan berarti menerima pasangan kita plek-plek-an apa adanya.

Bersedia berkorban yang betul adalah ya itu dia, memastikan pasangan kita siap berlayar dengan senantiasa membantu ia “meng-upgrade" dirinya. Jika kita belum siap berlayar, kita pun harus mawas diri untuk "meng-upgrade” diri sendiri.

"Kalau sama-sama belum siap berlayar, percuma aja, Tris. Bahteranya bakal nggak ada yang menakhkodai, terombang-ambing dalam kecamuk ombak kehidupan. Nggak akan nyampe tujuan deh."

Jleb.

Sangat iya iya iya, nancleb banget quotation Teh Elma yang satu ini. Ditambah lagi, ketika Teh Elma bilang begini,

"Ketika kita tetap awet dengan seseorang, tapi nggak tahu mau ngapain dan diarahkan kemana hidup kita, bukankah itu sebuah nightmare?”

***

Prinsip ini baru saja muda tercipta. Bahwa ketika kita memutuskan untuk tidak galau nikah, bukan berarti kita tidak mempersiapkan diri untuk menikah.

Well, itu prinsip saya. 

Dan ternyata, belajar dan bertanya mengenai pernikahan membuat saya semakin waras diri. Bahwa, dibutuhkan pengorbanan untuk saling bahu-membahu agar dapat mencapai tujuan. Pemahaman ini berguna banget buat bekal.

Prinsip pengorbanan untuk mencapai tujuan dalam pernikahan— baru saya sadari— ternyata bisa dipakai lintas bidang.

Misal, dalam keluarga besar. Atau dalam sebuah himpunan mahasiswa. Dalam instiusi perusahaan. 

Bahkan negara. 

Bahkan lagi, dalam paguyuban super-besar penduduk bumi. :)




*Gambar diambil dari sini.

  1. darazilya said: tulisanmu ini juga nancleb seclebclebnya di hati mba tris:))
  2. kalengikansarden posted this
Blog comments powered by Disqus
More Information