sounds sekseh.

Teringatlah satu masa. Ini saya yang mendapat nilai akumulasi buruk dalam pelajaran Fisika. Bahkan, nyerinya: di bawah standar. Sret.
Kala itu, gaya hidup alayhumgambrengisme masih lekat dalam diri yang masih baru “hampir” tamat kelas 2 SMA.
Kenapa alay? Karena saya orangnya sok MFTF (mencoba filsuf tapi fail, sok-sok an agnostik gitu, cuh ya? haha) sekaligus BGTG (berusaha gaul tapi gagal).
Kenapa “hampir” tamat? Karena sebelum naik ke kelas tiga~ nilai fisika harus diperbaiki hingga mencapai standar.
Sadar betul akan hal itu, saya berujar ngaco pada teman yang senasib harus memperbaiki nilai, “Gilaa, keren ya kita belum lulus! Harus memperbaiki nilai gitu. Kayak anak nakal pemberontak gitu.”
Minta dikemplang nggak sih?
Kini, setelah kuliah, saya “Alhamdulillah ya Rabb” jarang memiliki palilit akademik seperti layaknya ketika SMA dahulu. Saya (merasanya sih) mengkhatamkan tugas-tugas kuliah saya kayak mau mati saja.
Ini negatif. Karena saya merasa~ penugasan-penugasan kuliah kok malah memperbudak saya? Misal, saya kerjakan paper apresiasi buku dengan jumlah halaman cukup banyak karena saya tersiksa standar kualitas loh. Kata dosen~ seolah “yang bagus adalah yang banyak jumlah halamannya”.
Saya ditekan massif. Kesempatan untuk menulis pun kian kecil. Saya stres dan sampai hati menulis di twitter “How stupid! Selama ini saya MENULIS untuk KULIAH. Asyiknya itu jika saya KULIAH untuk MENULIS! Can you feel the difference?”
Tidak, saya tidak memvonis salah pihak elit akademik. Sedang malas mencari celah kecolongan. Saya justru merutuki diri “Hey, Nun Tristi. Ayooo, berdayakan kuliahmu. Bukan diperdaya olehnya.”
Hingga saya pernah berujar pada seorang kawan baru yang “agak mengabaikan” perkuliahannya karena he’s chasing every inch of his passion. Seorang kawan yang memantrai kaki saya hingga tergelitik untuk merencanakan berbagai “kenakalan” akademik. Membuat saya rindu jadi so-called-anak nakal pemberontak seperti layaknya Tristi SMA.
Begini kira-kira:
“Semester depan, aku ingin mengambil SKS lebih sedikit dibanding SKS yang normal diambil teman-temanku. Aku ingin banyak menulis. Aku ingin banyak melakukan banyak hal di luar perkuliahan.
“Aku ingin all-out di Salman, di mana aku sadar— mesjid ini potensial banget buat ngembangin kemampuanku. Atau aku ingin banyak mengeksplor kota. Ingin banyak membaca. Ingin banyak nulis ke media-media. Selama ini aku dikungkung dengan tuntutan akademik— dan rasanya ingin melakukan pemberontakan akademik untuk chasing where my passion leads.”
Nyaaam.
Sounds sexy.
Pertanyaannya, akankah?
Ah, yes.
*image taken from this


